Di Kabupaten Tuban, tepatnya di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding, terdapat sebuah lapangan yang menyimpan kisah penuh legenda. Masyarakat menyebutnya Lapangan Watu Gajah, karena di tempat itu berdiri sekumpulan batu besar yang bentuknya menyerupai gajah. Namun, batu-batu ini bukan sekadar batu biasa, melainkan dipercaya sebagai pasukan gajah Majapahit yang dikutuk menjadi batu oleh Sunan Bejagung.
Alkisah, pada masa kejayaan Majapahit, hiduplah seorang santri Sunan Bejagung yang dikenal dengan nama Pangeran Pengulu. Ia adalah seorang santri yang cerdas dan berwibawa, hingga para petinggi Majapahit hendak menobatkannya sebagai raja. Namun, Pangeran Pengulu menolak tawaran tersebut. Hatinya telah bulat, ia ingin tetap menjadi santri yang setia mendalami ilmu agama di bawah bimbingan Sunan Bejagung, bukan menjadi penguasa kerajaan.
Keputusan itu membuat pihak Majapahit tidak senang. Mereka kemudian mengirimkan pasukan gajah untuk menekan Pangeran Pengulu dan menggetarkan Desa Bejagung. Pasukan gajah itu masuk ke wilayah desa, merusak tanaman jagung milik para santri dan penduduk. Jagung pada masa itu adalah salah satu tanaman penting yang menjadi penopang pangan masyarakat. Melihat jagung mereka diinjak-injak, penduduk menjadi resah dan melaporkannya kepada Sunan Bejagung.
Sunan Bejagung dengan tenang menanggapi laporan santrinya. Ia berkata bahwa apa yang mereka lihat bukanlah pasukan gajah, melainkan sekumpulan batu. Seketika itu juga, pasukan gajah Majapahit yang merusak ladang jagung berubah menjadi batu besar. Batu-batu tersebut hingga kini masih dapat dijumpai di Lapangan Watu Gajah, berdiri sebagai saksi bisu atas kesaktian Sunan Bejagung dan keteguhan hati Pangeran Pengulu.
Bagi masyarakat Bejagung, legenda Watu Gajah bukan sekadar cerita tentang pasukan gajah yang dikutuk. Lebih dari itu, kisah ini mengajarkan tentang kesetiaan seorang murid kepada gurunya, serta pentingnya melindungi sumber pangan. Jagung, yang menjadi latar peristiwa ini, hingga kini tetap menjadi bagian penting dari kehidupan pertanian di Tuban. Jagung tidak hanya menjadi bahan makanan pokok, tetapi juga simbol ketahanan pangan yang sudah dijaga sejak masa leluhur.
Kini, Lapangan Watu Gajah sering menjadi tempat warga berkumpul dan beraktivitas. Batu-batu besar yang menyerupai gajah itu tetap menjadi pengingat bahwa pangan, khususnya jagung, adalah warisan yang harus dirawat dengan penuh rasa syukur. Legenda ini mengikat masyarakat Bejagung dengan tanah mereka, dengan jagung yang mereka tanam, dan dengan kisah leluhur yang memberi makna pada setiap butir hasil panen.