
Pada masa ketika daratan Trenggalek masih dikuasai rawa-rawa yang luas dan basah, hampir tidak ada manusia yang berani menetap di tempat itu. Tanahnya lembek, airnya tergenang, dan dari kejauhan tempat itu tampak seperti hamparan hijau yang tidak memiliki pijakan kokoh. Karena kondisi tersebut, pemukiman awal masyarakat lebih banyak berada di lereng Gunung Wilis dan perbukitan yang mengelilingi wilayah utara Trenggalek. Desa-desa yang kini ramai seperti Surodakan, Sumbergedong, Ngantru, Tamanan, bahkan sebagian wilayah Pogalan dulunya hanyalah kubangan rawa yang tidak bisa ditempati.
Sebelum bendungan di Sungai Bagong dibangun oleh Minak Sopal, air mengalir tanpa kendali sehingga daratan itu selalu terendam. Namun jauh sebelum masa Minak Sopal, sudah ada komunitas yang datang dan menetap lebih dulu. Mereka adalah para pelarian dari Majapahit pada masa pecahnya Perang Paregreg. Komunitas ini merupakan kelompok muslim Majapahit yang mencoba mencari tempat baru setelah kekacauan politik membuat mereka harus meninggalkan tanah kelahiran.
Menurut penuturan Mbah Hamid, rombongan pelarian ini bergerak dari Majapahit melewati Kediri, kemudian naik ke lereng timur Gunung Wilis. Dari sana mereka bergerak ke arah selatan menuju Sendang, lalu ke Pagerwojo, dan akhirnya turun mengarah ke utara hingga tiba di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Bendungan. Di sinilah mereka pertama kali menetap, karena tempat itu cukup tinggi dan tidak tergenang air.
Pemimpin komunitas tersebut adalah Raden Kuncoro, yang dikenal pula dengan nama Ki Ageng Wilis. Dalam beberapa kisah ia disebut sebagai tokoh bijak keturunan Majapahit. Namun nama Raden Kuncoro jarang digunakan karena ia lebih dikenal dengan nama Ki Surohandoko. Prabu Brawijaya V pernah mengangkat Ki Surohandoko sebagai Ki Demang Surohandoko di Kademangan Surodakan. Ketika usianya semakin tua, kedudukan sebagai pemimpin dilimpahkan kepada putranya yang bernama Ki Ageng Galek.
Ki Ageng Galek kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah pemukiman Trenggalek. Ia tinggal di lereng gunung sebelah barat Sungai Bagong, sedangkan padepokannya berada di sisi timur sungai. Di sekelilingnya, para pengikut dan masyarakat pelarian Majapahit membangun tempat tinggal sederhana. Mereka hidup dari alam, memanfaatkan mata air yang mengalir dari pegunungan sebagai sumber kehidupan utama. Air itu digunakan untuk minum, memasak, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Mata air alami inilah yang menjadi dasar berkembangnya komunitas permukiman awal di daerah tersebut.
Ki Ageng Galek tidak hanya dikenal sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai penjaga kehidupan masyarakat di wilayah rawa itu. Ia mengajarkan cara bertani di lahan tinggi, mengatur penggunaan air dari mata air, serta membimbing masyarakat menjaga hubungan dengan alam sekitar. Karena itu makamnya kini dihormati sebagai salah satu titik penting sejarah Trenggalek. Makam Ki Ageng Galek berada di Setono Galek, sedangkan peninggalan padepokannya tetap dikenang di timur Sungai Bagong.
Kisah perjalanan masyarakat pelarian Majapahit ini menunjukkan betapa pentingnya sumber air bagi kehidupan. Di tengah wilayah yang didominasi rawa, air bersih dari pegunungan menjadi sumber pangan dasar yang memungkinkan mereka bertahan hidup. Dari mata air itulah permukiman pertama tumbuh dan kemudian meluas hingga Trenggalek menjadi kota seperti sekarang.
Cerita Ki Ageng Galek dan Mbah Hamid mengajarkan bahwa sebuah pemukiman tidak lahir begitu saja. Ia hadir dari perjuangan, dari pencarian tempat yang aman, dari kemampuan memahami kondisi alam, serta dari penghormatan mendalam terhadap sumber kehidupan. Air menjadi elemen yang menyatukan manusia dengan tanah yang baru mereka pijak. Dari mata air kecil di lereng gunung, lahirlah komunitas yang kemudian tumbuh menjadi kota yang kuat. Kisah ini mengingatkan kita bahwa kearifan lokal tumbuh dari pengalaman berjuang bersama alam, bukan melawannya. Dengan menjaga air, masyarakat Trenggalek menjaga masa depan mereka.