Maling Kentiri

URL Cerital Digital: https://www.pasak.or.id/2023/09/carita-pepundhen-mediyun-menelusuri.html

Di sebuah desa yang dikelilingi hutan dan persawahan, hiduplah seorang lelaki yang dikenal dengan nama Maling Kentiri. Sejak dulu namanya tidak asing bagi masyarakat karena ulahnya yang suka mencuri. Ia pernah tinggal di Bajad, lalu pindah ke Desa Lembah di Ponorogo, namun tidak lama kemudian melarikan diri ke Dusun Padangan. Kepindahannya bukan untuk mencari hidup baru, melainkan agar ia bisa melanjutkan perbuatannya sebagai pencuri.

Namun, perbuatan jahat tidak selamanya luput dari pengawasan. Suatu malam, warga berhasil menangkap Maling Kentiri. Ia kemudian diikat dan dikurung berdiri di bawah sebuah pohon asem besar. Pohon itu rindang dan tua, menjadi saksi bisu bagi banyak peristiwa di desa. Buah asem yang asam segar biasanya dipetik warga untuk dijadikan bahan penyedap masakan atau dikonsumsi langsung sebagai camilan alami. Tetapi kali ini, pohon itu seolah menjadi tempat pengadilan bagi seorang pencuri yang terkenal licik.

Ketika seorang warga bersiap hendak menusuknya dengan tombak dari depan, Maling Kentiri justru berbicara dengan tenang. “Itu aneh,” katanya, “biasanya pencuri ditusuk dari belakang, bukan dari depan. Kalau memang mau menusukku, lakukan dari belakang, supaya sesuai dengan nasib pencuri pada umumnya.”

Orang-orang yang mendengar perkataannya pun sempat termakan akalnya. Salah seorang di antaranya menjawab, “Kalau begitu, kami akan melubangi batang pohon asem ini dari belakang, lalu menusukmu lewat punggung.”

Namun Maling Kentiri tidak berhenti. Ia kembali berkata, “Kalau benar ingin menusukku, lakukanlah pada malam hari, bukan siang. Lihat dulu ke arah timur, apa itu cahaya terang?” Orang yang melihat ke arah timur menjawab, “Itu cahaya padang.” Dari sinilah, menurut cerita, nama Padangan berasal.

Percakapan licik itu berlangsung lama. Orang-orang yang semula ingin mengakhiri riwayat pencuri itu malah dipermainkan. Kesempatan pun datang. Dengan kecerdasannya, Maling Kentiri berhasil meloloskan diri dari ikatan dan kabur meninggalkan warga yang kebingungan.

Versi lain dari cerita ini mengatakan bahwa Maling Kentiri suatu kali bersembunyi di bawah pohon asem, menunggu air Sungai Asin surut setelah banjir. Karena kelelahan, ia tertidur di sana hingga pagi hari. Saat matahari sudah terang benderang, ia masih terlelap. Kata “padang” yang berarti terang kemudian diyakini menjadi asal-usul nama Padangan.

Pohon asem yang menjadi saksi kisah Maling Kentiri hingga kini tetap memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Buahnya yang asam segar dimanfaatkan sebagai bahan penyedap alami untuk berbagai masakan tradisional Jawa Timur. Selain itu, buah asem juga bisa dikonsumsi langsung, menjadi pengingat bahwa dari pohon inilah terikat cerita antara kehidupan sehari-hari dan sejarah lisan yang diwariskan turun-temurun.

Dengan demikian, kisah Maling Kentiri bukan hanya dongeng tentang kecerdikan seorang pencuri, tetapi juga tentang bagaimana sebuah pohon pangan seperti asem melekat erat dalam ingatan dan budaya masyarakat. Ia menjadi simbol pengikat antara sejarah, kehidupan sehari-hari, dan cita rasa yang diwariskan dari masa ke masa.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.