Di lereng pegunungan Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, berdiri sebuah desa bernama Lumbang yang menyimpan kisah panjang sejak zaman Majapahit. Desa ini tidak lahir begitu saja, melainkan dari jejak para empu yang menyingkir dari bayang-bayang sejarah berdarah Ken Arok.
Alkisah, setelah peristiwa tragis wafatnya Empu Gandring di tangan Ken Arok, banyak empu merasa tidak lagi bisa hidup berdampingan dengan keturunan Ken Arok. Mereka memutuskan meninggalkan pusat kekuasaan dan mencari tempat baru yang masih berupa hutan lebat. Di antara mereka ada Empu Nameng Joyo, Empu Baridin, dan seorang tokoh perempuan sakti bernama Eyang Putri Mbh Mubit Sri Murni. Ketiganya memilih menetap di wilayah yang kelak dikenal sebagai Lumbang.
Pada masa awal bermukim, para leluhur itu menjalani tirakat di bawah pohon luh yang tumbuh subur di sekitar sumber air Tirto Ageng. Doa dan laku tapa mereka menghadirkan keajaiban. Dari tanah yang kering, tiba-tiba memancar air yang jernih dan deras. Konon, begitu besar kekuatan sumber itu hingga Eyang Putri terlihat melayang, seakan terapung di atas pancaran air. Dari peristiwa itulah nama Lumbang lahir, gabungan dari kata “lu” yang merujuk pada pohon luh dan “bang” yang diambil dari kata kemambang atau ngambang.
Tak hanya sumber air yang muncul, tetapi juga tumbuh pepohonan yang membawa berkah bagi kehidupan. Di antara pohon yang paling banyak adalah pohon duren. Hasilnya menjadi pangan utama yang menghidupi masyarakat. Buah duren yang harum dan manis dianggap sebagai lambang kesuburan tanah Lumbang. Bahkan, tiga sumber besar yang ditemukan para leluhur juga dinamai sesuai laku tirakat mereka: Eyang Putri memberi nama Sumber Kali Gedhe, Empu Nameng Joyo menamai Sumber Umbulan, dan Empu Baridin menamai Sumber Kali Duren. Nama terakhir ini mengingatkan bahwa duren bukan sekadar buah, melainkan juga bagian dari identitas desa.
Seiring waktu, pohon duren terus tumbuh subur dan menjadi penopang ekonomi masyarakat. Daging buahnya yang legit memberi tenaga bagi petani dan warga desa, sementara kulit dan bijinya diolah atau dijadikan bahan tambahan dalam berbagai keperluan rumah tangga. Duren tidak hanya sekadar pangan, tetapi juga penanda hubungan erat antara manusia dengan alam.
Hingga kini, meski jumlah pohon luh yang dahulu lebat sudah menipis, semangat yang diwariskan leluhur tetap hidup. Desa Lumbang terus menjaga tradisi, sumber air, dan hasil buminya. Setiap kali masyarakat menikmati duren, mereka tidak hanya merasakan manisnya buah, tetapi juga mengingat perjalanan panjang leluhur yang menghidupkan desa.
Nama Lumbang akhirnya menjadi lebih dari sekadar sebutan geografis. Ia adalah cerita tentang perjuangan, doa, dan pangan yang menyatu menjadi identitas. Desa ini berdiri sebagai saksi bahwa pangan, dalam bentuk buah duren yang sederhana, dapat menghubungkan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat dari masa ke masa.