Dusun Sumberaji, Desa Karangjeruk, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, dikenal sebagai wilayah yang tenang, dikelilingi pepohonan dan tanah yang selalu terasa sejuk. Nama Sumberaji sendiri tidak lahir tanpa makna. Ia tumbuh dari sebuah kisah lama tentang air, pengobatan, dan seorang tabib Kerajaan Majapahit bernama Mbah Margo.
Pada akhir abad ke-15, ketika Kerajaan Majapahit masih berdiri namun mulai diguncang konflik internal, hiduplah seorang abdi ndalem yang memiliki keahlian dalam ilmu pengobatan. Ia dikenal sebagai Mbah Margo. Kepiawaiannya meramu obat dari tanaman hutan dan air alami membuatnya disegani di lingkungan keraton. Banyak yang datang meminta pertolongan, bahkan dari kalangan bangsawan.
Namun kejayaan tidak selalu membawa ketenteraman. Konflik di dalam kerajaan membuat Mbah Margo memilih menjauh dari pusat kekuasaan. Pada Jumat Pahing di bulan Syaban tahun 1495 Masehi, ia membuka alas di wilayah yang kini dikenal sebagai Dusun Sumberaji. Di tempat itulah ia menetap, menyendiri, dan mengabdikan hidupnya untuk pengobatan serta perenungan.
Konon, keahlian Mbah Margo bukan hanya membuatnya dikenal sebagai tabib, tetapi juga menarik perhatian salah satu selir raja. Kisah cinta yang tak terbalas itu membuat sang selir membuntuti Mbah Margo hingga ke tempat sunyi ini. Namun Mbah Margo tetap memilih hidup sederhana, menjauh dari hiruk pikuk dan intrik kekuasaan.
Di tempat pertapaannya, Mbah Margo menemukan sebuah sumber mata air jernih. Air itu mengalir deras dari dalam tanah, dingin dan bening. Dari air itulah ia meramu obat-obatan, membersihkan luka, dan menolong warga sekitar yang mulai berdatangan meminta bantuan. Air menjadi bagian utama dari praktik pengobatannya, bukan sekadar pelengkap, tetapi inti dari penyembuhan.
Setelah Mbah Margo wafat, warga menemukan sepasang batu nisan sederhana dan sumber mata air yang tetap mengalir di sampingnya. Hingga kini, mata air itu tidak pernah kering, bahkan saat musim kemarau panjang. Airnya digunakan warga untuk mandi, memasak, dan dikonsumsi sehari-hari. Bagi masyarakat Sumberaji, air ini bukan sekadar kebutuhan fisik, tetapi juga warisan spiritual.
Air sebagai pangan memiliki fungsi utama sebagai penopang kehidupan. Di Sumberaji, air tidak hanya menghilangkan dahaga, tetapi menjaga kesehatan tubuh, mengairi tanaman, dan menjadi unsur penting dalam tradisi penyembuhan. Kepercayaan masyarakat terhadap khasiat air ini tumbuh dari pengalaman turun-temurun, dari kisah kesembuhan, dan dari keyakinan bahwa alam menyimpan kebaikan jika dijaga dengan hormat.
Kini, di sisi makam Mbah Margo berdiri sebuah pendapa sederhana. Para peziarah datang untuk berdoa, mengambil air secukupnya, dan mengenang sosok tabib yang memilih kesunyian demi kedamaian. Mereka diajarkan untuk tidak serakah, mengambil air seperlunya, dan menjaga kebersihan sumber tersebut.
Kisah Mbah Margo dan sumber air Sumberaji mengajarkan bahwa pangan paling dasar dalam kehidupan manusia adalah air. Air bukan hanya kebutuhan jasmani, tetapi juga penghubung manusia dengan alam dan Sang Pencipta. Dari mata air yang tak pernah kering itu, masyarakat belajar tentang ketulusan, kesederhanaan, dan keseimbangan hidup.
Di tengah perubahan zaman, Sumberaji tetap menjaga warisan ini. Air terus mengalir, cerita terus hidup, dan pesan moralnya tetap relevan. Selama manusia menghormati alam, merawat sumber kehidupan, dan tidak melupakan nilai kebijaksanaan leluhur, maka rezeki akan terus mengalir sebagaimana air yang diwariskan Mbah Margo kepada generasi setelahnya.