Mbah Tulak dan Tradisi Alung-Alung

URL Cerital Digital: https://radarmajapahit.jawapos.com/mojokerto-punya-cerita/2294442313/penyebar-agama-islam-mbah-tulak-dan-tradisi-alung-alung-di-brayublandong-dawarblandong-mojokerto

Pada masa ketika Islam belum dikenal luas di tanah Brayublandong, masyarakat setempat hidup dalam pengaruh Hindu-Buddha. Mereka menggantungkan hidup pada ladang, kebun, dan ternak. Tanah yang subur menjadi tumpuan utama, sementara hujan dipandang sebagai anugerah yang menentukan hidup dan mati tanaman. Dalam suasana itulah Mbah Tulak datang. Ia bukan hanya pembuka desa, tetapi juga penuntun arah baru dalam keyakinan.

Mbah Tulak menetap di lereng Gunung Kunci bersama istrinya, Nyai Fitri Pitaloka. Dengan cara yang halus dan penuh kebijaksanaan, ia memperkenalkan ajaran Islam tanpa memutus hubungan masyarakat dengan adat dan alam. Doa-doa diperkenalkan, tetapi rasa syukur atas pangan tetap dijaga. Ajaran tauhid berjalan seiring dengan kebiasaan menghormati bumi sebagai sumber penghidupan.

Waktu berlalu. Setelah Mbah Tulak wafat, makamnya sempat terlupakan. Hingga pada sekitar tahun 1700-an, warga menemukan sebuah gundukan batu di Gunung Kunci. Dari sanalah keyakinan tumbuh bahwa tempat itu adalah peristirahatan terakhir sang sesepuh desa. Sejak itu, makam Mbah Tulak dan istrinya menjadi tempat yang dihormati, bukan untuk meminta kekuatan gaib, tetapi untuk mengenang jasa dan menundukkan hati dalam doa.

Dari penghormatan itulah lahir tradisi alung-alung. Setiap awal musim hujan, ketika tanah kembali basah dan harapan akan panen tumbuh, warga berkumpul di makam Mbah Tulak. Mereka membawa pangan yang berasal dari hasil kerja sendiri. Ayam panggang, ketupat, dan lepet disusun rapi, bukan sebagai persembahan untuk makam, melainkan sebagai simbol rasa syukur.

Ayam panggang melambangkan hasil peternakan dan kesungguhan merawat kehidupan. Ketupat dan lepet yang terbuat dari beras dan ketan melambangkan hasil pertanian serta ikatan sosial. Ketupat yang teranyam rapat mencerminkan persatuan warga, sementara lepet yang lengket menyiratkan harapan agar kebersamaan tidak tercerai.

Pangan dalam tradisi ini memiliki fungsi yang jelas. Ia bukan sekadar makanan, tetapi sarana ungkapan terima kasih kepada Allah atas rezeki alam. Doa dipanjatkan oleh sesepuh desa menggunakan bahasa Jawa, diiringi tembang sinden yang mengalun pelan. Meski bahasanya tradisional, tujuan doanya tunggal, memohon keselamatan, kelimpahan hasil kebun, serta keseimbangan hidup.

Tradisi alung-alung dilakukan pada Kamis Pon dan Jumat Legi, hari yang dipercaya membawa ketenangan batin. Peziarah dan warga duduk bersama tanpa sekat. Makanan dibagikan, dimakan bersama, dan sebagian dibawa pulang sebagai berkah. Dari Surabaya, Malang, Lamongan, hingga Tuban, orang-orang datang bukan untuk mencari kekayaan instan, tetapi untuk merasakan ketenteraman yang lahir dari kebersamaan dan doa.

Hingga kini, meski makam telah direnovasi dan zaman terus berubah, tradisi ini tetap dijaga. Masyarakat Brayublandong memahami bahwa pangan bukan hanya soal perut kenyang. Pangan adalah hasil dialog panjang antara manusia dan alam, antara kerja dan doa, antara tradisi lama dan keyakinan baru.

Di akhir cerita ini, Gunung Kunci tetap berdiri sebagai saksi. Hujan tetap turun sesuai musimnya. Dan masyarakat Brayublandong terus mengajarkan bahwa menghormati pangan berarti menghormati kehidupan itu sendiri. Dari ayam panggang, ketupat, dan lepet, kita belajar bahwa kearifan lokal mengajarkan keseimbangan. Manusia mengambil dari alam secukupnya, mengolahnya dengan kerja keras, mensyukurinya dengan doa, dan membaginya dengan sesama. Itulah pesan moral yang diwariskan Mbah Tulak, sebuah ajaran tentang hidup yang selaras, rendah hati, dan penuh rasa syukur.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.