
Di tepian Tuban, terdapat sebuah dusun bernama Mayang di Desa Magersari, Kecamatan Plumpang. Sejak lama, daerah ini dikenal dengan sumber airnya yang melimpah. Airnya tidak hanya dinikmati oleh warga Mayang, tetapi juga mengalir hingga ke dusun-dusun sekitar seperti Juwet, Pacar, dan Penidon. Di balik keberkahan itu, tersimpan sebuah kisah lama yang dipercaya masyarakat berasal dari jasa seorang sesepuh desa bernama Mbah Ubru.
Konon, pada suatu masa, di Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, hiduplah seorang putri cantik dari Ngelirip. Putri itu dipaksa menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai. Merasa tertekan, ia melarikan diri dan akhirnya sampai di Dusun Mayang. Tubuhnya letih, kerongkongannya kering, dan ia pun mengajukan sebuah sayembara.
Sayembara itu sederhana namun penuh makna. Jika orang yang memberinya minum adalah seorang tua, maka ia akan dianggap sebagai orang tuanya. Jika yang memberinya minum adalah seorang muda, maka ia bersedia menjadikannya pendamping hidup.
Kabar sayembara itu akhirnya terdengar oleh Mbah Ubru. Ia pun bertekad untuk memenuhi permintaan sang putri. Namun, syaratnya tidak mudah. Air hanya bisa diambil dari Sumberagung Semo, dan tidak boleh diminta atau dibeli. Hanya mereka yang sanggup mengambil sendiri yang berhak mendapatkannya.
Mbah Ubru berpikir keras, mencari cara untuk bisa membawa air itu. Di tengah pencariannya, ia melihat kebiasaan masyarakat Semo yang gemar berjudi. Dengan kecerdasannya, Mbah Ubru membantu mereka agar bisa memenangkan taruhan. Setelah para penjudi menang besar, mereka kebingungan dan terheran, hingga bersandar lelah di sebuah tempat. Sejak saat itu, daerah itu disebut Dempel, dari kata “sendempel” atau bersandar.
Dalam kelengahan masyarakat yang sibuk dengan hasil judi, Mbah Ubru mengambil kesempatan. Ia berhasil mengalirkan air dari Sumberagung Semo menuju desanya, Dusun Mayang. Saat masyarakat Semo Dempel menyadari air di sumber mereka hilang, mereka mengikuti alirannya dan akhirnya menemukan bahwa air itu telah sampai ke Desa Magersari.
Tentu mereka meminta air itu kembali. Tetapi Mbah Ubru menolak, sebab sesuai perjanjian awal, air yang sudah berhasil diambil tidak bisa diminta kembali. Walau demikian, ia tetap berhati lembut. Ia mengizinkan masyarakat Semo Dempel untuk mengambil air dari Mayang jika mereka membutuhkan untuk minum atau mandi.
Sejak saat itu, Dusun Mayang memiliki sumber air yang tak pernah kering. Airnya melimpah, menghidupi tidak hanya warga Magersari, tetapi juga desa-desa di sekitarnya. Hingga kini, makam Mbah Ubru masih dihormati, dan namanya dikenang sebagai sesepuh yang membawa kehidupan melalui air.
Cerita ini menunjukkan betapa pentingnya air sebagai sumber pangan bagi manusia. Ia bukan hanya pelepas dahaga, tetapi juga penopang kehidupan, penghubung antar desa, dan warisan berharga yang dijaga hingga kini.