
Di antara pegunungan yang memeluk Trenggalek dari berbagai sisi, terdapat sebuah aliran sungai tua yang hingga kini masih mengalir tenang. Sungai itu dikenal sebagai Sungai Ngasinan. Airnya jernih, mengalir lembut melewati bebatuan, dan menjadi sumber kehidupan bagi banyak warga sejak berabad-abad lalu. Di tepiannya tumbuh berbagai tanaman pangan, dan sawah-sawah subur bergantung penuh kepada airnya untuk terus hidup. Namun Sungai Ngasinan bukan hanya menyimpan air, melainkan juga menyimpan jejak sejarah yang menghubungkan Trenggalek dengan masa lampau, pada era kerajaan-kerajaan tua Jawa Timur.
Nama Ngasinan diyakini berkaitan dengan sebuah kerajaan kuno bernama Hasin atau Macin. Kerajaan ini disebut dalam berbagai naskah lama, termasuk Prasasti Baru dari masa Airlangga dan kitab Tantu Panggelaran yang ditulis pada akhir era Majapahit. Dalam kitab itu diceritakan perjalanan Begawan Agastya yang singgah di Hasin untuk menemui Begawan Markandeya. Nama itu muncul berulang-ulang seakan menunjukkan bahwa wilayah Trenggalek memiliki kedudukan penting di masa lalu.
Pada era Dharmmawangsa Teguh, Kerajaan Hasin berada di bawah naungan Kerajaan Medang Jawa Timur. Namun situasi berubah ketika serangan dari Lwaram yang dipimpin Raja Wura-Wari menghancurkan pusat kerajaan dan menewaskan Dharmmawangsa. Pada masa itu banyak daerah kekuasaan Medang terpecah, termasuk kerajaan Hasin yang kemudian berdiri sendiri. Airlangga yang selamat dari serangan itu menghabiskan waktu bersembunyi sembari menunggu keadaan pulih.
Setelah merasa cukup kuat, Airlangga berusaha mengembalikan kejayaan kerajaan mertuanya. Ia melakukan penaklukan kembali terhadap wilayah-wilayah yang dulu berada di bawah kekuasaan Dharmmawangsa. Salah satu wilayah itu adalah Kerajaan Hasin yang terletak di daerah yang kini dikenal sebagai Trenggalek. Catatan sejarah lain menyebut bahwa pada masa Raja Kertajaya, raja terakhir Kediri, terdapat seorang permaisuri bernama Dewi Hasin yang berasal dari kerajaan ini. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa Hasin benar-benar pernah berdiri sebagai kerajaan penting di jalur selatan Jawa Timur.
Sungai Ngasinan yang mengalir di wilayah itu diyakini menjadi salah satu pusat kehidupan masyarakat Hasin. Air mengalir dari hulu ke hilir, menghidupi ladang, sawah, serta pelapukan tanah yang kemudian menjadi subur. Aliran sungai menjadi jalur penting bagi masyarakat kuno untuk bertani, menangkap ikan, serta menjalin hubungan antardesa. Hingga hari ini, fungsi itu tidak berubah. Sungai Ngasinan tetap menjadi sumber irigasi utama bagi penduduk Trenggalek. Airnya mengaliri sawah yang menghasilkan padi, sayuran, dan berbagai tanaman pangan lain yang menjadi kebutuhan sehari-hari.
Dengan demikian, Sungai Ngasinan bukan sekadar aliran air, tetapi juga saksi abadi perjalanan sejarah panjang Trenggalek. Ia menghubungkan masa ketika kerajaan-kerajaan besar berdiri dengan kehidupan masyarakat modern yang memerlukan air untuk bertani dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air sungai itu adalah salah satu denyut nadi yang menjaga Trenggalek tetap hidup sejak ratusan tahun lalu.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa pangan tidak hanya berasal dari tanah yang subur, tetapi juga dari sejarah panjang interaksi manusia dan lingkungan. Sungai menjadi bagian dari kehidupan, bukan hanya sebagai sumber air, tetapi juga sebagai pengikat budaya, ekonomi, dan identitas masyarakat. Dengan menjaga sungai dan lingkungannya, masyarakat Trenggalek merawat warisan nenek moyang yang telah menjaga mereka sejak zaman kerajaan. Sungai Ngasinan mengajarkan bahwa kesejahteraan lahir dari keselarasan antara manusia dan alam, serta dari penghormatan terhadap sumber kehidupan yang telah menghidupi banyak generasi.