
Di Kabupaten Lamongan, terdapat sebuah tempat yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Gunung Pegat. Letaknya berada di Desa Karangkembang, Kecamatan Babat, sebuah kawasan yang tampak tenang di siang hari, tetapi menyimpan cerita lama yang telah turun-temurun dipercaya oleh warga. Gunung ini bukanlah gunung besar dengan puncak tinggi, melainkan bukit batu kapur yang membelah jalan raya, seperti dua sisi yang terpisah oleh nasib. Dari sanalah muncul nama Pegat, yang dalam bahasa Jawa berarti berpisah.
Orang-orang tua di sekitar gunung sering menceritakan bahwa siapa pun yang melintas di jalan yang membelah Gunung Pegat, terutama pasangan yang hendak menikah, sebaiknya melakukan sebuah ritual kecil. Ritual itu sederhana, namun dipercaya mampu menghindarkan mereka dari nasib buruk. Sepasang kekasih yang akan menikah harus melempar atau melepaskan ayam hidup di sekitar gunung itu. Bila mereka melintas tanpa melakukan ritual tersebut, diyakini hubungan mereka kelak tidak akan langgeng, bahkan bisa berakhir dengan perceraian. Karena itulah, setiap kali ada calon pengantin yang melintas di sana, hampir selalu terlihat seekor atau dua ekor ayam yang dilepaskan dengan penuh harap.
Warga sekitar menyebut ayam-ayam itu sebagai pemberian dari para pengendara yang sedang berusaha menolak bala. Bagi warga desa, hal tersebut justru menjadi berkah. Ayam-ayam yang dilepaskan biasanya akan berlari mencari tempat bersembunyi di semak atau sekitar sumber air di kaki gunung. Tidak lama kemudian, warga yang kebetulan sedang melintas akan berusaha menangkapnya. Menurut mereka, ayam yang berasal dari Gunung Pegat memiliki keistimewaan. Selain dagingnya lebih enak, ayam itu juga dipercaya lebih tahan terhadap penyakit, seolah membawa kekuatan dari doa dan keyakinan orang yang melepaskannya.
Seorang warga bernama Lek Mat pernah bercerita bahwa sejak dulu, ayam-ayam dari Gunung Pegat menjadi rebutan setiap kali ada pasangan yang lewat dan melakukan ritual tersebut. Kadang satu ekor ayam bisa dikejar oleh beberapa orang sekaligus, hingga tawa dan sorak-sorai memenuhi udara sore di sekitar gunung. Namun mereka tidak memandangnya semata sebagai hiburan atau kesempatan mendapatkan makanan. Bagi mereka, ayam itu membawa berkah. Ada yang memeliharanya, ada pula yang memasaknya bersama keluarga sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang datang dengan cara yang tidak disangka.
Di dekat Gunung Pegat terdapat sebuah sumber air alami yang jernih, mengalir dari celah bebatuan. Warga sekitar memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti memasak dan mengairi kebun. Sumber air itu diyakini terhubung dengan kekuatan spiritual gunung tersebut. Banyak yang percaya bahwa air dari sana membawa ketenangan bagi siapa pun yang meminumnya. Dahulu, sebelum pembangunan jalan besar, tempat ini juga sering dijadikan lokasi upacara adat yang disebut Nyadran, sebuah tradisi doa bersama untuk mengenang leluhur. Dalam tradisi itu, warga membawa hasil bumi, air, dan makanan seperti nasi tumpeng serta lauk ayam, lalu berdoa di makam sesepuh desa yang dikenal sebagai Mbah Buyut Kliteh.
Cerita tentang Gunung Pegat bukan hanya kisah mitos tentang hubungan dua sejoli, tetapi juga gambaran bagaimana masyarakat Lamongan hidup berdampingan dengan alam dan kepercayaan mereka. Ayam, yang menjadi bagian dari ritual ini, tidak hanya berfungsi sebagai sesajen, tetapi juga menjadi sumber pangan yang membawa nilai sosial dan spiritual. Ia melambangkan pengorbanan kecil yang dilakukan dengan harapan besar, dan ketika ayam itu tertangkap oleh warga, ia berubah menjadi anugerah yang nyata bagi kehidupan mereka.
Hingga kini, setiap kali ada pasangan yang melintas di jalan yang membelah Gunung Pegat, masyarakat masih menunggu dengan antusias. Mereka percaya bahwa mitos itu adalah bentuk warisan yang harus dijaga, bukan untuk menakuti, tetapi untuk mengingatkan bahwa setiap perbuatan, sekecil apa pun, dapat membawa berkah jika dilakukan dengan niat yang tulus. Gunung Pegat pun tetap berdiri di tempatnya, menjadi saksi bagi setiap doa yang dilepaskan bersama ayam hidup, dan bagi setiap rezeki yang jatuh ke tangan warga yang setia menunggu di kaki gunung.