Mitos Malajer Tekos

URL Cerital Digital: https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/bapala/article/view/42628/36634#:~:text=dan%20di%20laut.,panen%20atau%20agar%20warnanya%20bagus.

Di tengah birunya Laut Jawa, terdapat sebuah pulau indah bernama Bawean. Pulau ini terbagi menjadi dua kecamatan, Tambak dan Sangkapura. Dari Kecamatan Tambak, lahirlah sebuah tradisi unik yang hingga kini masih dikenal masyarakat, yaitu malejer tekos, sebuah upacara adat yang lahir dari hubungan erat antara manusia, pangan, dan alam sekitarnya.

Cerita ini bermula dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bawean yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan nelayan. Setiap pagi, mereka berangkat ke sawah untuk menanam padi atau berlayar ke laut mencari ikan. Pangan yang dihasilkan bukan hanya menjadi santapan keluarga sehari-hari, tetapi juga sumber rezeki yang dijual ke pasar dan ke tetangga. Pada masa dahulu, hasil panen padi dianggap jauh lebih baik daripada sekarang. Nasi yang dihasilkan terasa lebih empuk dan harum, sebab padi dipanen ketika benar-benar matang tanpa campur tangan obat-obatan. Bagi masyarakat, padi adalah sumber kehidupan sekaligus anugerah yang harus dijaga.

Namun, keadaan tidak selalu berjalan mulus. Pada suatu musim, para petani dikejutkan oleh kerusakan parah di sawah mereka. Saat pagi tiba, mereka mendapati padi yang roboh, batang yang patah, serta bulir yang habis dimakan tikus di malam hari. Tikus-tikus itu membuat sawah berantakan, sehingga warga berkali-kali mengalami kerugian. Rasa geram pun memuncak, sebab jerih payah berbulan-bulan bisa musnah hanya dalam semalam.

Dari keresahan itu, warga kemudian bermusyawarah. Mereka sepakat melakukan penangkapan tikus pada malam hari. Namun, penangkapan saja tidak cukup. Sebagai wujud doa dan harapan agar tikus tidak kembali merusak panen, warga melaksanakan upacara adat yang kelak dikenal sebagai malejer tekos.

Saat pagi menjelang, warga berkumpul di balai desa. Tikus-tikus hasil tangkapan dimasukkan ke dalam perahu-perahu kecil. Setiap perahu berisi sepasang tikus, dan di dalamnya juga diletakkan hasil panen berupa padi, pisang, dan ubi. Jumlah perahu itu ada lima buah, melambangkan doa dan persembahan masyarakat kepada alam.

Prosesi arak-arakan pun dimulai. Warga desa berjalan bersama-sama menuju pantai dengan membawa perahu-perahu kecil berisi tikus dan hasil bumi. Sepanjang perjalanan, suasana begitu meriah. Ada yang membacakan doa, ada pula yang mempertunjukkan pencak silat sebagai lambang keberanian menjaga sawah mereka. Semua orang, tua maupun muda, ikut serta mengiringi rombongan hingga ke tepi laut.

Sesampainya di pantai, doa kembali dipanjatkan. Perahu-perahu berisi tikus dan hasil panen itu dilepaskan ke laut. Masyarakat percaya, dengan melepas tikus ke laut bersama padi, pisang, dan ubi, hama itu akan pergi jauh dan tidak lagi mengganggu sawah mereka.

Namun, cerita ini tidak berhenti sampai di situ. Dikisahkan bahwa dari lima perahu yang dilepaskan, empat di antaranya berlayar dengan tenang meninggalkan pantai. Satu perahu justru kembali lagi, seolah enggan pergi. Warga mencoba melayarkannya kembali, tetapi perahu itu tetap kembali ke pantai. Setelah dicoba berulang kali, barulah terlihat bahwa tikus di dalamnya mulai lemah dan resah. Mereka tidak lagi bertenaga untuk merusak padi. Masyarakat pun yakin bahwa doa mereka terkabul, dan sejak saat itu sawah mereka terbebas dari gangguan.

Tradisi malejer tekos kemudian diwariskan turun-temurun. Hingga kini, ia dilaksanakan setiap kali musim panen padi berakhir. Bagi masyarakat Bawean, tradisi ini bukan sekadar cara untuk mengusir hama, melainkan juga simbol rasa syukur dan kebersamaan. Pangan yang dihasilkan dari sawah dan ladang bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga menjadi pengikat harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.