Pasarean Pangeran Batu Putih

URL Cerital Digital: https://rri.co.id/wisata/843661/pasarean-pangeran-batu-putih-situs-sejarah-sumenep

Di wilayah timur Pulau Madura, tepatnya di Desa Paberasan Kecamatan Kota Sumenep, berdiri sebuah situs yang diselubungi kisah heroik dan aroma kearifan lokal. Tempat itu dikenal sebagai Pasarean Pangeran Batu Putih. Di sekelilingnya tumbuh pohon nangger yang menjulang tinggi, beberapa di antaranya diperkirakan berusia ratusan tahun. Batangnya kokoh, daunnya rimbun, dan akarnya menancap dalam pada tanah yang telah menyimpan jejak sejarah panjang masyarakat Sumenep.

Menurut cerita warga Kampung Jengara, makam yang terletak di sudut teduh itu dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir Pangeran Batu Putih. Ia dikenal sebagai pahlawan yang gugur saat mempertahankan wilayah Madura Timur dari serangan pasukan Bali pada abad ke enam belas. Sosoknya digambarkan sebagai pemimpin berani yang tidak gentar menghadapi ancaman. Bersama para prajuritnya, ia bertarung demi menjaga tanah dan martabat kaumnya.

Kisah perjuangannya diwariskan turun temurun, menjadikan Pasarean Pangeran Batu Putih bukan hanya tempat pemakaman, tetapi juga simbol keteguhan hati. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi titik ziarah masyarakat dari berbagai daerah di Sumenep. Setiap musim tertentu, rombongan dari Karang Anyar, Pinggir Papas, Kebun Dadap, dan banyak desa lain datang untuk mengenang keberanian sang pangeran.

Di balik kegiatan ziarah itu terdapat tradisi leluhur yang masih dilestarikan sampai sekarang, yaitu Upacara Nyadar. Upacara ini merupakan wujud syukur masyarakat Sumenep kepada Sang Pencipta atas hasil bumi, terutama pangan yang telah memberi kehidupan dari masa ke masa. Bahan pangan lokal seperti beras, ketan, kelapa, garam, dan hasil ladang lainnya selalu menjadi bagian penting dalam prosesi. Pangan dalam tradisi Nyadar bukan hanya sesuatu yang dikonsumsi, tetapi juga perlambang hubungan manusia dengan alam. Ia dianggap sebagai titipan yang harus dijaga, dihormati, serta dibagikan dalam suasana syukur bersama.

Pasarean Pangeran Batu Putih memiliki peran khusus dalam rangkaian Upacara Nyadar. Menurut penuturan para peziarah, termasuk Mohammad dari Kalianget Timur, tempat ini sering menjadi titik akhir dari seluruh rangkaian prosesi. Di sini, sesaji berbahan pangan lokal dipersembahkan sebagai ungkapan hormat kepada tokoh yang telah berjasa melindungi tanah Madura. Masyarakat percaya bahwa tanah yang dahulu dipertahankan dengan darah para pejuang kini memberikan rezeki berupa hasil bumi yang berlimpah. Karena itu, makanan yang dipersembahkan tidak dimaknai sebagai persembahan untuk arwah, melainkan simbol rasa terima kasih atas keseimbangan alam yang telah terjaga sejak masa Pangeran Batu Putih.

Setiap kunjungan ke pasarean membawa suasana yang khas. Bau tanah basah dari bawah pohon nangger bercampur dengan aroma nasi dan ketan dari sesaji yang dibawa para peziarah. Di antara desir angin, doa dipanjatkan, cerita-cerita lama kembali diceritakan, dan nilai-nilai kebajikan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari kisah ini, terlihat betapa erat hubungan masyarakat Sumenep dengan tanah yang mereka pijak. Pangan lokal tidak hanya menjadi pengganjal perut, tetapi juga jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Ia menjadi simbol syukur atas alam yang memberi, sekaligus pengingat akan perjuangan tokoh seperti Pangeran Batu Putih yang menjaga tanah ini dengan keberanian.

Melalui legenda dan tradisi yang masih dirawat, masyarakat belajar bahwa kearifan lokal selalu menuntun manusia untuk mencintai bumi, menjaga keberlanjutan alam, dan menghargai warisan para leluhur. Kisah Pangeran Batu Putih bukan hanya catatan sejarah kepahlawanan, tetapi juga pesan moral untuk terus merawat pangan lokal sebagai sumber kehidupan dan pengikat harmoni antara manusia dan alam.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.