
Di masa lampau, di sebuah wilayah yang kini dikenal sebagai Blitar, berdirilah sebuah kadipaten yang makmur di bawah pimpinan Adipati Nila Suwarna. Sang Adipati dikenal bijaksana, adil, dan sangat mencintai rakyatnya. Bersama permaisurinya, Dewi Rayungwulan, ia hidup dalam kedamaian. Kabar kebahagiaan semakin terasa ketika Dewi Rayungwulan diketahui tengah mengandung, calon penerus yang akan membawa masa depan kadipaten menuju kejayaan.
Namun, seperti halnya perempuan hamil pada umumnya, Dewi Rayungwulan suatu hari mengidam sesuatu yang tidak biasa. Ia duduk di beranda istana, menatap aliran sungai di kejauhan, lalu berkata lembut kepada suaminya, “Kanda, hamba ingin sekali makan ikan bader abang sisik kencana, ikan berwarna merah dengan sisik keemasan yang berkilau seperti matahari.”
Adipati Nila Suwarna tersenyum mendengar permintaan itu. “Baik, permaisuriku. Akan kucarikan ikan itu, walau harus kutelusuri sungai sejauh apa pun.” Ia segera memanggil Ki Ageng Sengguruh, seorang penasihat dan tokoh yang disegani di kadipaten itu. Adipati menceritakan keinginan sang permaisuri dan memintanya membantu mencari ikan bader merah bersisik emas yang langka itu.
Ki Ageng Sengguruh mengangguk, tetapi di balik wajahnya yang tenang, tersimpan niat jahat. Ia telah lama iri kepada Adipati Nila Suwarna yang disegani rakyat. Ia ingin merebut kedudukan sang Adipati dengan cara licik. Maka, ketika pergi ke Kedung Gayaran, sebuah kedung yang dalam dan tenang di tengah hutan, ia melakukan tipu muslihat.
Ki Ageng Sengguruh menanggalkan hiasan daun telinga kanan miliknya, sumping yang konon memiliki kekuatan gaib. Ia menggumamkan mantra dan mengubah sumping itu menjadi seekor ikan bader merah bersisik emas yang indah berkilau di air. Ia lalu melepaskan ikan itu ke dalam kedung, tersenyum licik melihat rencananya mulai berjalan.
Keesokan harinya, ia mengajak Adipati Nila Suwarna datang ke Kedung Gayaran. “Tuanku,” katanya berpura-pura hormat, “hamba telah menemukan ikan yang dicari oleh permaisuri.”
Adipati Nila Suwarna datang dengan penuh semangat. Begitu tiba di tepi kedung, ia memang melihat seekor ikan bader merah bersisik emas berenang perlahan di dalam air. Cahaya matahari membuat sisik ikan itu berkilau seperti emas murni. Dengan hati gembira, sang Adipati turun ke air, berusaha menangkapnya agar bisa dibawa pulang untuk sang permaisuri.
Namun, begitu ia menyentuh air, sesuatu yang aneh terjadi. Arus sungai tiba-tiba berubah deras, air berputar membentuk pusaran besar, dan dalam sekejap Adipati Nila Suwarna terseret ke tengah kedung. Teriakannya menggema, tetapi tak ada yang bisa menolong. Ia tenggelam, lenyap bersama riak air yang kembali tenang.
Dari tepian, Ki Ageng Sengguruh hanya tersenyum dingin. Ia tahu rencananya berhasil. Sejak saat itu, ia mengambil alih kadipaten dan memerintah rakyat dengan kekuasaan yang keras. Namun, rakyat merasakan perbedaan besar. Di bawah pemerintahan baru itu, kadipaten tidak lagi damai.
Beberapa tahun berlalu. Putra Adipati Nila Suwarna dan Dewi Rayungwulan, yang diberi nama Jaka Kandung, tumbuh menjadi pemuda cerdas dan berani. Sejak kecil, ia mendengar kisah tentang ayahnya yang tewas di Kedung Gayaran. Namun, ibunya tidak tahu kebenaran di balik peristiwa itu. Hanya Jaka Kandung yang yakin bahwa kematian sang ayah bukan kecelakaan, melainkan akibat pengkhianatan.
Ketika dewasa, Jaka Kandung menyusun rencana. Ia menyamar menjadi pengembara dan pergi ke kadipaten yang kini dikuasai oleh Ki Ageng Sengguruh. Dengan kepintaran dan sikap sopannya, ia berhasil menarik perhatian sang penguasa. Ki Ageng Sengguruh, tanpa menyadari siapa pemuda itu sebenarnya, justru mengangkatnya menjadi anak angkat.
Hari demi hari, Jaka Kandung tinggal di kadipaten, mempelajari segala sesuatu tentang Ki Ageng Sengguruh. Ia tahu waktu yang tepat untuk membalas dendam akan tiba. Pada suatu malam yang tenang, ketika Ki Ageng Sengguruh tengah beristirahat di pendapa, Jaka Kandung menghampirinya dengan wajah datar. Ia lalu berkata pelan, “Apakah Paduka masih ingat ikan bader bersisik emas di Kedung Gayaran?”
Ki Ageng Sengguruh terkejut mendengar pertanyaan itu. Sebelum ia sempat menjawab, Jaka Kandung melanjutkan, “Aku adalah anak Adipati Nila Suwarna, yang kau bunuh dengan kelicikanmu. Malam ini, aku datang bukan untuk mencari belas kasihan, tetapi untuk menegakkan keadilan.”
Dalam sekejap, Jaka Kandung menghunus keris peninggalan ayahnya. Pertarungan pun tak terelakkan. Meski Ki Ageng Sengguruh memiliki ilmu yang tinggi, Jaka Kandung lebih muda dan lebih cepat. Akhirnya, keris itu menembus dada sang pengkhianat, mengakhiri dendam yang telah lama membara.
Sejak kematian Ki Ageng Sengguruh, rakyat kadipaten kembali hidup dalam kedamaian. Jaka Kandung memimpin dengan kebijaksanaan, meneladani ayahnya. Ia menjaga alam dan sumber kehidupan di sekitarnya, terutama Kedung Gayaran, tempat peristiwa tragis itu terjadi.
Kedung Gayaran menjadi tempat suci bagi warga sekitar. Di dalamnya hidup berbagai jenis ikan, termasuk ikan bader merah yang dulu menjadi awal dari kisah ini. Warga percaya ikan itu membawa berkah, karena air di kedung itu tetap jernih dan menjadi sumber pangan alami. Ikan-ikan di sana dilindungi, tetapi sebagian kecil dibudidayakan untuk pangan, menjadi simbol keseimbangan antara manusia dan alam.
Kini, cerita Jaka Kandung dikenang bukan hanya sebagai kisah tentang pembalasan dan keberanian, tetapi juga tentang kejujuran dan kesetiaan. Air Kedung Gayaran dan ikan endemiknya menjadi warisan yang terus dijaga oleh masyarakat Blitar, mengingatkan bahwa setiap kehidupan yang lahir dari bumi harus dijaga dengan kebijaksanaan.