
Fajar menyingsing perlahan di ufuk timur ketika alam mulai terbangun dari lelapnya. Cahaya keemasan matahari menyapu pepohonan Wendit, memantulkan kilau hangat yang menghidupkan kembali warna warna pagi. Di tengah perjalanan pulang itu, Sukanti menoleh untuk memastikan bahwa air suci dalam bambu besar yang dibawanya masih aman. Namun betapa terkejutnya ia ketika mendapati bahwa orang yang semalam berjalan di sisinya bukan lagi sosok bungkuk yang selama ini dikenal sebagai tukang air, melainkan seorang pemuda tampan bertubuh tegap.
Sukanti terdiam. Hatinya berdebar keras. Pemuda itu tersenyum lembut sambil menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ia bercerita bahwa selama bertahun-tahun dirinya dikutuk oleh roh jahat sehingga tubuhnya menjadi bungkuk dan penampilannya menakutkan. Kutukan itu hanya bisa hilang jika ia berhasil mendapatkan hati gadis tercantik di negeri ini sebagai istrinya. Kebaikan, ketulusan, dan keberanian Sukanti dalam berbuat demi ayahnya telah mematahkan kutukan itu.
Sukanti mendengarkan dengan mata berbinar. Ia teringat bagaimana si bungkuk menemaninya sepanjang malam tanpa mengeluh dan bagaimana hatinya merasa tenang berada di dekatnya. Kini, melihat wujud asli pemuda itu, Sukanti justru merasa semakin yakin bahwa kebaikan hatinya tidak pernah ia salah tempatkan.
Setibanya di rumah, air suci dalam bambu segera diberikan kepada ayah Sukanti. Dalam beberapa hari, kondisi sang ayah pulih sepenuhnya. Rebung bambu yang dibawa Sukanti bukan hanya menjadi wadah air, tetapi juga simbol dari harapan, ketabahan, dan ketulusan yang menyatukan kembali keluarga ini.
Setelah ayahnya sembuh, Sukanti menerima pinangan pemuda tampan tersebut. Mereka kemudian menetap bersama di sebuah rumah indah di lereng Gunung Arjuno. Keindahan alam di sana begitu menakjubkan, hingga mereka sering berseru bahwa tempat itu hampir membuat mereka lupa pada segala beban hidup. Dari ungkapan inilah masyarakat menamai kawasan tersebut Lalijiwo, yang berarti melupakan jiwa.
Sementara itu, tempat meninggalnya kedua kakak Sukanti tetap dikenang oleh warga sekitar. Daerah di sebelah barat Wendit diberi nama Blimbing, sesuai tempat Abdiah berakhir. Sementara di sebelah utara, tempat Kariati celaka dinamakan Manggis. Kedua nama itu menjadi penanda tentang akibat buruk dari kesombongan, sekaligus pengingat tentang pentingnya kerendahan hati.
Kisah Sukanti menjadi cermin bahwa sumber air bukan hanya sekadar kebutuhan hidup, tetapi juga penopang kisah kisah manusia tentang harapan dan perubahan. Air yang jernih dari Wendit telah menyembuhkan, sementara bambu yang kuat telah menjadi saksi perjalanan cinta dan ketulusan seorang anak. Dalam tradisi Jawa, air selalu dianggap sebagai kehidupan dan kesucian. Ia mengalir membawa keselamatan, menghilangkan luka, dan memberi kesempatan baru.
Cerita ini mengajarkan bahwa kebaikan hati jauh lebih berharga daripada rupa. Kesederhanaan, kesetiaan, dan keteguhan adalah sumber kehidupan yang sesungguhnya. Seperti sumber air yang terus mengalir di Wendit, nilai nilai luhur itu harus dijaga agar tetap memberi kesejukan bagi generasi berikutnya.