Di tengah hamparan Laut Jawa yang luas dan kerap bergolak, berdiri sebuah pulau yang sejak lama menjadi persinggahan para pelaut. Pulau itu kini dikenal sebagai Pulau Masalembu, sebuah wilayah kecil di utara Kabupaten Sumenep yang dihuni oleh masyarakat multi suku. Namun sebelum menjadi tempat bermukim, pulau ini hidup terlebih dahulu sebagai cerita, yang berawal dari pelayaran, pangan, dan daya tahan manusia menghadapi samudra. Cerita rakyat Pulau Masalembu berakar pada kisah para pelaut dari Sulawesi yang pada paruh abad ketujuh belas berlayar menuju Pulau Jawa. Mereka membawa hasil dagang utama berupa kopra, daging kelapa yang dikeringkan, pangan sekaligus komoditas penting dalam jalur niaga maritim. Di tengah perjalanan panjang melintasi laut bebas, para pelaut ini melihat sebuah pulau yang bentuknya menyerupai tubuh lembu yang tengah berbaring di lautan.
Pulau itu tampak sunyi. Tidak ada tanda pemukiman manusia, namun hamparannya dipenuhi oleh kawanan sapi yang berkeliaran bebas. Seorang tokoh yang kemudian dikenal sebagai Datuk Kaidani memimpin rombongan untuk berlabuh di pesisir pulau tersebut. Mereka menelusuri daratan, mengambil air, dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan pelayaran.
Dalam kisah yang dituturkan turun-temurun, keputusan penting diambil di pulau sunyi itu. Beberapa ekor sapi ditangkap dan dagingnya diolah menjadi deng gerreng, daging sapi yang dikeringkan agar tahan lama. Bagi para pelaut, pangan ini sangat berharga. Deng gerreng bukan hanya bekal yang mengenyangkan, tetapi juga simbol kecerdikan manusia pesisir dalam mengelola sumber daya alam agar dapat bertahan di laut. Daging kering tersebut kemudian dibawa bersama kopra menuju pesisir Jawa, tepatnya wilayah Gresik. Di sana, deng gerreng dijual kepada pedagang Tionghoa yang telah lama menjadi mitra dagang. Ketika ditanya asal daging sapi tersebut, Datuk Kaidani menunjuk ke arah laut, ke pulau yang dipenuhi sapi. Dari percakapan itulah muncul sebutan Nusa Lembu, pulau sapi, nama yang kelak melekat kuat dalam ingatan kolektif para pelaut.
Namun perjalanan pulang ke Sulawesi tidak berjalan mudah. Badai dan ombak besar berulang kali menggagalkan pelayaran. Takdir membawa Datuk Kaidani dan rombongannya terdampar di Pulau Raas, Madura. Di sanalah ia menetap, menikah, dan membangun keluarga. Meski demikian, ingatan tentang pulau sunyi yang kaya akan sapi dan tanah subur tidak pernah pudar.
Setelah memiliki keturunan, Datuk Kaidani kembali mengajak kerabat dan sahabatnya untuk membabat pulau yang dahulu hanya menjadi persinggahan. Mereka kembali ke Nusa Lembu, mendirikan rumah panggung, membuka lahan, dan mulai menetap. Sejak saat itu, pulau tersebut perlahan berubah menjadi ruang hidup bagi berbagai suku, termasuk Bugis, Mandar, dan Madura.
Dalam versi lain yang hidup berdampingan, disebutkan bahwa Datuk Kaidani bukanlah orang pertama yang menemukan pulau itu. Keberadaan makam-makam tua tanpa nama menjadi penanda bahwa Masalembu mungkin telah disinggahi lebih dahulu oleh pelaut lain. Namun bagi masyarakat setempat, perbedaan versi tidak menghapus makna utama cerita. Yang terpenting adalah bagaimana pangan, dalam wujud daging sapi kering, menjadi penghubung antara pelayaran, perdagangan, dan lahirnya sebuah komunitas..