
Dahulu kala, di sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Kelurahan Bendogerit, Kota Blitar, hiduplah seorang tokoh bijak dan berwibawa bernama Kiai Pradongso. Ia adalah pemimpin rombongan rakyat yang berasal dari Desa Kapak, Monggolan, Trenggalek. Ketika kampung halaman mereka dilanda bencana alam besar yang menghancurkan rumah dan ladang, Kiai Pradongso memutuskan untuk membawa warganya pergi mencari tanah baru, tempat yang aman dan subur untuk ditinggali.
Perjalanan itu bukanlah perjalanan singkat. Mereka melintasi lembah, hutan, dan perbukitan, menghadapi panas matahari di siang hari dan dingin yang menggigit di malam hari. Namun Kiai Pradongso tidak pernah kehilangan semangat. Ia terus menguatkan hati rombongannya dengan kata-kata yang meneduhkan. “Selama kita bersama dan saling menjaga,” katanya, “tanah mana pun akan menjadi rumah bagi kita.”
Setelah menempuh perjalanan panjang, tibalah mereka di sebuah hutan lebat di daerah timur. Di tengah hutan itu berdiri sebuah pohon bendo yang sangat besar, menjulang tinggi seolah menyentuh langit. Di sekelilingnya tumbuh pohon-pohon apak yang rimbun, batangnya saling berhimpitan, dan daunnya membentuk kanopi yang menutupi langit. Tempat itu tampak teduh dan subur. Maka, Kiai Pradongso memutuskan untuk beristirahat di sana bersama seluruh rombongan. Mereka mendirikan tenda-tenda sederhana di bawah naungan pohon-pohon besar itu.
Namun malam pertama mereka di hutan itu membawa bencana. Angin tiba-tiba bertiup kencang, menciptakan suara gesekan di antara batang-batang pohon apak. Bunyi “griit… griit…” menggema menembus gelap malam. Tak lama kemudian, salah satu pohon apak tumbang, menimpa anggota rombongan yang sedang tidur. Esok harinya, mereka menemukan korban luka-luka dan harus merawat mereka dengan penuh kesedihan.
Hari-hari berikutnya tidak lebih baik. Setiap malam, angin selalu datang membawa ancaman. Pohon-pohon apak yang tinggi dan rapat sering tumbang karena akar mereka saling menjepit di tanah yang lembap. Korban pun bertambah, membuat rombongan semakin ketakutan. Kiai Pradongso merasa tidak bisa tinggal diam. Ia percaya bahwa hutan itu sebenarnya tidak jahat, hanya butuh keseimbangan agar manusia bisa hidup berdampingan dengan alam.
Dengan tekad bulat, Kiai Pradongso mulai membabat pohon-pohon apak sedikit demi sedikit. Ia tidak menebangnya dengan marah, melainkan dengan rasa hormat. Setiap kali menebang, ia mengucap doa agar pohon itu memberi manfaat bagi kehidupan mereka. Kayu apak digunakan untuk membuat tempat tinggal sementara, perabot sederhana, dan kayu bakar. Bahkan daun-daun dan kulit pohonnya dimanfaatkan untuk obat tradisional, karena masyarakat percaya bahwa pohon apak memiliki khasiat untuk meredakan nyeri dan mengobati luka.
Warga mengikuti jejak Kiai Pradongso. Mereka bekerja bersama, menebas semak, menata lahan, dan membersihkan wilayah sekitar pohon bendo besar yang berdiri kokoh di tengah hutan. Semakin banyak pohon apak yang ditebang, semakin tenang pula malam mereka. Angin kencang yang dulunya datang setiap malam kini berhenti. Alam seolah ikut bernafas lega, dan hutan itu pun menjadi tempat yang ramah bagi manusia.
Suatu pagi, ketika matahari menembus celah dedaunan, Kiai Pradongso memandangi pohon bendo yang masih berdiri di tengah-tengah pemukiman baru mereka. Ia berkata kepada pengikutnya, “Kita telah menemukan rumah kita. Pohon bendo ini akan menjadi penanda bahwa kita selamat karena kebijaksanaan dan kerja keras.” Maka, sebagai tanda rasa syukur, mereka menamai daerah itu Bendogerit, berasal dari kata bendo dan gerit. “Bendo” diambil dari nama pohon besar yang menjadi pusat tempat mereka menetap, sedangkan “gerit” berasal dari suara griit… griit… gesekan pohon apak yang dulu mengiringi perjuangan mereka.
Sejak saat itu, daerah Bendogerit menjadi tempat yang damai dan subur. Masyarakat hidup dengan cara yang diwariskan oleh Kiai Pradongso: menghormati alam dan memanfaatkannya secara bijak. Pohon bendo yang besar tetap dijaga, dianggap sebagai simbol pelindung desa. Mereka memanfaatkan daun dan getah berbagai pohon di sekitar hutan untuk obat-obatan alami, sementara kayunya digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari tanpa merusak keseimbangan hutan.
Kisah perjuangan panjang Kiai Pradongso mengajarkan bahwa manusia tidak bisa melawan alam dengan kekuatan, melainkan harus berdamai dengannya melalui kebijaksanaan. Alam menyediakan segalanya untuk kehidupan, dari obat hingga pangan, tetapi hanya bagi mereka yang menghormati dan merawatnya. Hingga kini, warga Bendogerit masih menjaga tradisi leluhur itu, hidup berdampingan dengan pohon-pohon yang memberi kehidupan seperti dulu ketika Kiai Pradongso pertama kali menancapkan tongkatnya di tanah yang kini menjadi rumah mereka.