
Pada masa ketika wilayah Blitar masih dipenuhi hutan lebat dan sungai-sungai yang jernih, hiduplah tiga tokoh yang disegani karena kebijaksanaan dan kesaktiannya, yaitu Kyai Bancerollah, Punjung Panangkaran, dan Kertodrono. Ketiganya datang dari arah barat sebagai pengembara yang membawa misi suci untuk membuka hutan, menyebarkan kebaikan, dan membangun kehidupan baru di tanah timur Jawa.
Setelah berembug di bawah rindangnya pepohonan, mereka sepakat untuk membagi tugas agar pekerjaan besar itu dapat terlaksana. Kyai Bancerollah memilih wilayah timur, Punjung Panangkaran menjaga wilayah tengah, dan Kertodrono mengambil bagian barat yang tanahnya subur dan penuh potensi. Dengan tekad dan doa, mereka memulai pembabatan hutan. Pohon-pohon besar ditebang, semak-semak dibersihkan, dan tanah liar diubah menjadi lahan yang bermanfaat bagi manusia.
Kertodrono, yang dikenal kuat dan cerdas, bekerja tanpa kenal lelah. Ia mengolah tanah dengan ketekunan dan menanam benih padi pertama di tanah barat itu. Air dari mata air hutan ia salurkan menjadi irigasi, sehingga lahan yang tadinya liar kini berubah menjadi sawah luas yang menghijau. Dari hari ke hari, masyarakat berdatangan untuk membantu dan belajar bertani. Hasil panen mereka melimpah, dan wilayah itu pun menjadi pusat pertanian yang makmur.
Namun, kejayaan itu menarik perhatian pihak Belanda yang mulai masuk ke Blitar. Mereka mendengar tentang suburnya lahan yang dikelola oleh Kertodrono dan ingin menguasainya. Dengan tipu daya, Belanda mendekati Kertodrono dan menawarkan kerja sama dengan imbalan perlindungan serta hasil yang lebih besar. Awalnya Kertodrono menolak, tetapi godaan itu perlahan menggoyahkan hatinya. Ia mulai berpikir bahwa dengan bantuan Belanda, wilayahnya bisa lebih cepat berkembang.
Kyai Bancerollah menentang keputusan itu. Ia mengingatkan bahwa Belanda tidak datang untuk membantu, melainkan untuk menguasai. Namun Kertodrono, yang terlanjur percaya pada niat baik mereka, mengabaikan nasihat sahabatnya. Perselisihan pun timbul di antara mereka.
Suatu hari, ketika hubungan mereka semakin renggang, terjadi peristiwa aneh. Dari dalam hutan yang dulu dibuka oleh Kertodrono, muncul seekor harimau besar. Binatang itu bukan sembarang hewan. Matanya merah menyala dan suaranya menggema ke seluruh penjuru desa. Ia menyerang ternak dan membuat warga ketakutan. Dalam waktu singkat, suasana damai berubah menjadi mencekam.
Masyarakat percaya bahwa harimau itu adalah kutukan alam yang muncul karena ketidakharmonisan antara manusia dan tanah yang mereka kelola. Mereka yakin hanya satu orang yang mampu menaklukkan makhluk itu, yaitu Kertodrono sendiri.
Maka, di suatu pagi yang suram, Kertodrono berdiri di tepi hutan dengan sebilah tombak di tangannya. Angin bertiup kencang, daun-daun berjatuhan, dan suara auman harimau mengguncang dada siapa pun yang mendengarnya. Ia tahu, ini bukan sekadar pertarungan dengan binatang buas, melainkan ujian batin yang akan menentukan nasibnya dan rakyatnya.
Pertarungan itu berlangsung sengit. Harimau menyerang dengan kecepatan luar biasa, namun Kertodrono menangkis dengan ketenangan. Setiap langkahnya ia iringi dengan doa, setiap tebasan ia niatkan untuk memulihkan keseimbangan alam. Tanah bergetar, pepohonan bergetar, hingga akhirnya dengan satu tebasan terakhir, harimau itu roboh.
Begitu harimau jatuh, tubuhnya berubah menjadi debu yang perlahan tertiup angin. Di tempat hewan itu menghilang, mengalir air jernih yang kemudian menjadi sumber kehidupan bagi sawah-sawah di sekitar. Penduduk menyebutnya sumber Pakunden, sebagai tanda bahwa tanah itu telah kembali tenang dan diberkahi.
Sejak saat itu, Kertodrono menyesali keputusan masa lalunya. Ia memutuskan untuk menghentikan kerja sama dengan Belanda dan kembali ke jalan yang diajarkan gurunya: bekerja untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk kekuasaan. Lahan yang telah ia buka terus berkembang menjadi sawah-sawah subur yang menghasilkan padi melimpah, menjadi sumber pangan bagi masyarakat Blitar dan sekitarnya.
Kisah tentang Kertodrono dan harimau menjadi legenda yang dikenang oleh penduduk setempat. Mereka percaya bahwa setiap kali air di sumber Pakunden mengalir jernih, itu adalah tanda restu dari alam, pengingat akan perjuangan seorang tokoh yang akhirnya memilih berdamai dengan tanah yang ia cintai.