Petik Laut

URL Cerital Digital: https://www.detik.com/jatim/budaya/d-7450735/melihat-kemeriahan-tradisi-petik-laut-nelayan-di-desa-padelegan-pamekasan

Di sebuah desa pesisir bernama Padelegan, yang terletak di Kecamatan Pademawu, Pamekasan, masyarakat hidup berdampingan dengan laut sejak ratusan tahun lalu. Laut bukan sekadar hamparan air, melainkan sahabat, sumber rezeki, dan tempat bernaung bagi harapan mereka. Setiap tahun, ketika angin terasa lembut dan hasil tangkapan melimpah, warga berkumpul untuk merayakan tradisi sakral yang diwariskan dari leluhur. Tradisi itu dikenal sebagai Petik Laut.

Di pagi buta, ratusan warga mengenakan pakaian terbaik mereka. Perahu-perahu dihias dengan warna cerah, bendera berkibar, dan ornamen laut menghiasi bagian depan perahu. Di salah satu perahu, terdapat sebuah miniatur perahu kecil yang dipenuhi sesajen. Di dalamnya ada kepala sapi yang dipilih dengan cermat, buah-buahan segar, dan hasil bumi lain sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan kepada lautan yang memberi kehidupan.

Sesajen bukan sekadar makanan, melainkan lambang pengorbanan, rezeki, dan keberkahan. Kepala sapi dipersembahkan sebagai penghormatan tertinggi, sementara buah-buahan melambangkan kesuburan dan keberlimpahan alam. Masyarakat percaya bahwa laut memiliki penjaga tak kasatmata yang harus dihormati agar senantiasa memberikan hasil ikan yang berlimpah dan perjalanan nelayan selalu selamat.

Perayaan berlangsung selama tiga hari. Hari pertama dimulai dengan istigasah, doa bersama untuk memohon keselamatan. Malamnya desa berubah menjadi panggung budaya. Irama musik daul menggema, ludruk mengundang tawa, dan anak-anak berlarian penuh suka cita di antara kerumunan. Hari kedua menjadi puncaknya, ketika perahu-perahu perlahan bergerak menuju tengah laut. Warga menaiki perahu dengan hati yang khidmat, angin laut menyapu wajah mereka, dan deru ombak seolah menyambut kedatangan iring-iringan itu.

Sesampainya di titik tertentu, tabuhan musik berhenti. Suasana berubah hening. Dengan penuh hormat, sesajen diangkat lalu dilarungkan ke laut. Air menjadi saksi, dan ombak dengan lembut membawa persembahan itu menjauh. Semua berharap agar laut menerima pemberian mereka dengan lapang, dan semoga hasil tangkapan tahun depan lebih melimpah.

Aparat keamanan dari TNI, Polairud, dan tim SAR BPBD turut berjaga. Mereka memastikan masyarakat tetap aman selama ritual berlangsung, karena laut meski memberi, bisa pula menuntut kehati-hatian. Para nelayan tua selalu berkata bahwa menghormati laut berarti menjaga diri dan alam semesta di dalamnya.

Setiap orang kembali pulang dengan hati tenang. Di hari terakhir, khataman Al Qur’an digelar sebagai penutup, menandai seimbangnya syukur spiritual dan adat leluhur. Tahun berikutnya, desa berencana merayakan tradisi ini lebih meriah lagi, bahkan menjalin kerja sama dengan pemerintah provinsi untuk menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya yang mereka miliki.

Tradisi Petik Laut bukan hanya ritual budaya, tetapi juga pelajaran hidup. Ia mengajarkan bahwa makanan bukan sekadar sesuatu yang kita makan, tetapi juga anugerah yang patut dihormati. Kepala sapi dan buah-buahan yang dilepaskan ke laut menjadi simbol hubungan manusia dengan alam. Masyarakat Padelegan tidak mengambil tanpa memberi, tidak memanen tanpa berterima kasih.

Pada akhirnya, kisah ini mengingatkan kita bahwa keseimbangan alam bergantung pada sikap manusia. Laut memberi kehidupan, dan manusia wajib menjaganya dengan rasa syukur dan kehormatan. Inilah kearifan lokal yang mengikat masa lalu, kini, dan masa depan. Dalam gelombang yang datang dan pergi, kita belajar bahwa hidup dan rezeki adalah titipan, dan tradisi adalah cara kita merawatnya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.