Di sepanjang pesisir Kota Probolinggo, laut bukan sekadar hamparan biru yang luas. Laut adalah sumber kehidupan, sahabat setia nelayan, sekaligus pemberi rezeki yang tak pernah berhenti. Setiap tahun, para nelayan yang tergabung dalam Paguyuban Nelayan mengadakan sebuah upacara sakral yang penuh warna dan kebersamaan, dikenal dengan nama Petik Laut.
Petik Laut adalah perayaan syukur. Nelayan percaya bahwa hasil laut yang mereka dapatkan bukan hanya karena kerja keras mengarungi ombak, tetapi juga berkat rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, ketika setahun penuh dilalui dengan panen ikan, udang, dan hasil laut lainnya, tiba saatnya mereka berkumpul untuk mempersembahkan doa dan sesaji ke tengah lautan.
Sejak pagi buta, dermaga sudah ramai oleh nelayan, keluarga, dan warga yang datang dari berbagai penjuru kota. Kapal-kapal nelayan berhias indah dengan bendera warna-warni. Bau ikan segar bercampur dengan aroma laut yang khas, mengingatkan bahwa pangan hasil laut adalah harta yang harus disyukuri. Di atas kapal utama, sesaji disiapkan. Sesaji itu biasanya terdiri dari hasil bumi dan hasil laut, termasuk ikan besar, udang, kepiting, serta berbagai olahan laut yang ditata rapi. Semua itu bukan untuk dimakan, tetapi untuk dipersembahkan sebagai tanda terima kasih sekaligus permohonan keselamatan di tahun-tahun berikutnya.
Ketika matahari mulai meninggi, rombongan kapal bergerak menuju tengah laut. Doa-doa dipanjatkan dengan khidmat, memohon agar laut tetap memberi hasil yang melimpah dan melindungi setiap nelayan dari bahaya. Sesaji kemudian dilarungkan ke laut, diiringi suara gamelan, tabuhan gendang, dan sorak sorai masyarakat yang menyaksikan. Ombak yang menelan sesaji itu dipercaya sebagai tanda bahwa alam menerima persembahan mereka.
Namun Petik Laut bukan hanya tentang ritual keagamaan. Ia juga menjadi pesta rakyat. Setelah sesaji dilabuhkan, masyarakat merayakannya dengan berbagai hiburan. Ada tarian tradisional, musik rakyat, hingga makan bersama dengan sajian laut yang melimpah. Ikan bakar, sate udang, sup ikan, dan berbagai masakan khas pesisir disajikan, menjadi simbol nyata bahwa pangan laut bukan hanya sumber energi, tetapi juga perekat kebersamaan.
Tradisi ini terus dijaga dari generasi ke generasi. Petik Laut mengajarkan bahwa pangan laut bukan hanya rezeki yang mengenyangkan perut, melainkan anugerah yang patut dirayakan bersama. Ia mengingatkan manusia untuk tidak lupa bersyukur, menjaga alam, dan mempererat persaudaraan.
Setiap tahun, ketika kapal-kapal berhias indah di pesisir Probolinggo, orang tahu bahwa bukan sekadar pesta yang digelar. Itu adalah Petik Laut, sebuah ritual sakral yang menyatukan doa, pangan, dan kebahagiaan masyarakat pesisir.