Pohon Bendo dan Cerita Para Pemikat Burung

Di sudut pedesaan Jawa, terdapat sebuah kisah tentang manusia dan alam yang berjalan beriringan sejak masa lampau. Salah satu saksi bisu hubungan itu adalah pohon bendo. Pohon besar yang menjulang tinggi ini tidak hanya menjadi bagian dari lanskap hutan Trenggalek, tetapi juga pernah menjadi sumber penting bagi kebutuhan pangan dan kehidupan masyarakat. Dari pohon bendo inilah getah pulut dihasilkan, sejenis lem alami yang digunakan untuk menangkap burung. Pulut ini menjadi bagian dari budaya berburu tradisional yang dahulu sangat dikenali oleh warga desa.

Pohon bendo, atau dikenal dengan nama latin Artocarpus Hirsutus, memiliki batang yang besar dan kulit kayu tebal. Ukurannya yang masif sering kali membuat dua orang dewasa harus bergandengan tangan untuk merangkulnya. Pada masa lalu, pohon ini banyak ditemukan di tegalan, kebun, dan hutan sekitar desa. Bagi para pemikat burung, pohon bendo adalah harta karun alam. Getahnya yang kuat dan lengket menjadi bahan utama untuk membuat pulut, lem perekat yang dipasang pada ranting atau cabang kecil untuk menjebak burung.

Ketika para pemikat burung mendekati pohon bendo, biasanya mereka akan menggores kulit batangnya menggunakan arit atau sabit. Goresan-goresan ini membuat getah bening mengalir keluar perlahan. Getah tersebut lalu ditampung, dijemur, dan dibiarkan mengeras sedikit. Dalam waktu singkat, bahan pulut pun siap digunakan. Ranting yang telah diolesi pulut ditempatkan pada tempat-tempat yang biasa dikunjungi burung. Ketika burung-burung kecil hinggap di sana, kaki mereka melekat kuat pada pulut, membuat mereka tak lagi mampu terbang.

Bagi masyarakat dahulu, burung yang tertangkap bukan hanya menjadi peliharaan, tetapi juga sumber pangan tambahan. Burung tertentu menjadi lauk yang disajikan bersama nasi atau sayur yang ditanam sendiri di kebun. Pulut pohon bendo jadi pendukung penting dalam pemenuhan kebutuhan protein itu. Kehadiran pohon bendo, dengan demikian, tidak hanya berkaitan dengan budaya menangkap burung, tetapi juga menjadi bagian dari rantai konsumsi lokal yang menggambarkan betapa masyarakat memanfaatkan potensi alam sekitarnya.

Namun waktu telah berubah. Aktivitas memikat burung semakin jarang dilakukan. Burung lokal pun kini semakin berkurang karena perubahan lingkungan dan berkurangnya habitat alam. Pohon bendo pun tidak lagi banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Meski masih bisa dijumpai di beberapa desa, tubuh pohon bendo yang besar sering memamerkan bekas luka masa lalu. Goresan dan sayatan yang tertinggal di batangnya menjadi penanda hubungan manusia dengan alam yang dulu begitu dekat.

Selain sebagai sumber getah pulut, pohon bendo juga memiliki peran penting dalam budaya penamaan tempat. Di Jawa, banyak desa dan dusun dinamai berdasarkan jenis pohon yang tumbuh dominan di wilayah tersebut. Tidak heran bila di Trenggalek terdapat nama-nama seperti Bendoroto, Bendorejo, Bendogrowong, hingga Bendoagung. Nama-nama ini menjadi petunjuk bahwa pohon bendo pernah tumbuh lebat di wilayah itu, sekaligus menjadi identitas alami bagi komunitas yang tinggal di sekitarnya.

Kisah pohon bendo dan para pemikat burung memperlihatkan hubungan yang sangat erat antara masyarakat dan alam. Mereka memahami bahwa setiap bagian dari pohon memiliki manfaat yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Getahnya menjadi lem alami, batangnya menjadi penanda tempat, dan keberadaannya menjadi bagian dari budaya setempat. Pohon bendo mengajarkan bahwa alam menyediakan banyak hal bagi manusia, tetapi membutuhkan pemahaman dan kepedulian agar keseimbangan tetap terjaga.

Pada akhirnya, pohon bendo adalah simbol dari kearifan lokal, yakni cara masyarakat memanfaatkan sumber daya alam tanpa teknologi modern. Walaupun tradisi memikat burung kini mulai memudar, jejak pohon bendo tetap mengingatkan kita pada masa ketika manusia hidup selaras dengan lingkungan, memahami batas pemanfaatan, dan menghargai setiap anugerah yang diberikan hutan. Dari kisah ini kita belajar bahwa menjaga kelestarian alam adalah bagian dari menjaga kelangsungan hidup itu sendiri, sebagaimana akar-akar pohon bendo yang menahan tanah agar tetap kokoh, begitu pula kearifan lokal menahan budaya tetap hidup di tengah arus perubahan zaman.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.