Pohon Kembang Sooko

URL Cerital Digital: https://desasooko.com/sejarah-desa/#:~:text=Lalu%20pohon%20itu%20dikeramatkan%20Warga,tersebut%20menjadi%20identitas%20Desa%20Sooko.&text=Didusun%20Ngemplak%20terdapat%20tempat%20keramat,seserahan%20tiap%20hari%20jumat%20pon.&text=Di%20dusun%20grenjengan%20terdapat%20sebuah,air%20terjun%20tersebut%20masih%20ada.

Di sebuah sudut Jawa Timur, terdapat sebuah desa bernama Sooko. Nama desa ini tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari kisah lama yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, di tengah dusun yang kini dikenal sebagai Sooko, berdiri sebuah pohon yang sangat besar dan menjulang tinggi. Pohon itu disebut Kembang Sooko. Batangnya kokoh, daunnya rimbun, dan kehadirannya begitu mencolok di antara pepohonan lain.

Pohon Kembang Sooko tumbuh di dekat sebuah sendang, yaitu sumber air alami yang jernih dan tak pernah kering. Bagi masyarakat setempat, sendang itu adalah anugerah. Ia menjadi penampungan air, tempat mandi, sekaligus sumber kehidupan. Dari sendang itulah warga memperoleh air untuk mengolah hasil bumi mereka, menanak nasi, memasak sayur, hingga menyiapkan pangan sehari-hari. Air yang jernih itu juga menjadi pengikat kehidupan sosial masyarakat karena setiap orang pasti datang ke sana untuk memenuhi kebutuhan hariannya.

Seiring waktu, pohon Kembang Sooko mulai dikeramatkan. Tingginya menjulang seolah melindungi desa, sementara letaknya yang berdampingan dengan sendang membuatnya seakan menjadi penjaga sumber kehidupan. Masyarakat kemudian menganggap pohon ini bukan hanya tumbuhan biasa, melainkan lambang desa yang layak dihormati. Dari situlah nama Sooko lahir, diambil dari pohon keramat yang begitu melekat dalam ingatan mereka.

Sendang yang berada di dekat pohon pun tidak sekadar berfungsi sebagai tempat mandi atau mengambil air. Ia juga digunakan dalam upacara adat yang disebut turun tanah, sebuah tradisi Jawa ketika seorang anak pertama kali menginjakkan kakinya di bumi. Dalam prosesi itu, air dari sendang diyakini membawa keberkahan dan kesucian. Tradisi ini semakin menegaskan betapa eratnya hubungan antara air, kehidupan, dan keberlangsungan pangan masyarakat.

Sejak saat itu, pohon Kembang Sooko dan sendang di sampingnya menjadi identitas desa. Keduanya dianggap sebagai sumber kesuburan yang menopang sawah, ladang, serta hasil bumi yang tumbuh subur di sekitarnya. Masyarakat percaya, tanpa pohon dan sendang itu, kehidupan mereka tidak akan sebaik sekarang.

Kini, nama Desa Sooko terus dikenang sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan terhadap alam. Dari pohon yang dikeramatkan hingga air sendang yang memberi kehidupan, kisah ini mengingatkan bahwa pangan dan keberlangsungan hidup manusia tidak bisa dilepaskan dari alam yang dijaga dengan rasa hormat dan syukur.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.