Prasasti Batu Gong dan Sumur

URL Cerital Digital: http://taandika1.blogspot.com/2017/08/sejarah-jember.html

Di wilayah Jatian, tepatnya di Dusun Kaliputih, Rambipuji, terdapat sebuah batu besar yang oleh masyarakat setempat disebut Prasasti Batu Gong. Batu itu berdiri kokoh di tengah kawasan yang sunyi, seolah menjadi penjaga waktu. Ukirannya diperkirakan berasal dari masa Hindu dengan aliran Siwa. Tulisan pada batu itu memuat kata PARVVATESWARA yang bermakna Dewa Gunung. Para ahli menduga prasasti ini dibuat sekitar tahun 650 hingga 732 Masehi. Meski demikian, batu itu sendiri tidak menyimpan cerita tertulis yang jelas. Ia diam, namun diamnya menyimpan tanda bahwa kawasan Jember pada masa lampau telah menjadi tempat yang penting bagi masyarakat kuno yang tinggal di sekitarnya.

Tidak jauh dari sana, di Desa Karang Bayat Kecamatan Sumberbaru, terdapat Prasasti Congapan. Pada prasasti ini tertulis kalimat pendek yang berbunyi tlah sanak pangilanku, yang ditafsirkan sebagai penanda tahun 1088 oleh Didik Purbandriyo, seorang koordinator Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. Meski hanya terdiri dari sedikit tulisan, berabad abad kemudian prasasti itu tetap bertahan sebagai jembatan antara masa kini dan masa silam, memberikan petunjuk bahwa masyarakat zaman dahulu memiliki tradisi menandai peristiwa penting melalui batu dan simbol.

Selain prasasti prasasti tersebut, banyak pula jejak sejarah lain yang tersebar di wilayah Jember. Di kaki Gunung Argopuro, pada puncak Rengganis, ditemukan reruntuhan batu yang diperkirakan merupakan bagian dari struktur bangunan kuno. Di Desa Kamal, Arjasa, juga ditemukan banyak batu peninggalan masa lampau, seolah menunjukkan bahwa daerah ini dulu merupakan tempat yang dihuni dan dipandang suci. Sementara di dekat kampus UJ ditemukan sebuah sumur tua pada tahun 2008, tersembunyi di balik tanah dan pepohonan seakan menunggu untuk ditemukan kembali.

Masyarakat setempat percaya bahwa sumur sumur tua semacam itu bukan sekadar sumber air, tetapi juga bagian penting dari kehidupan masyarakat zaman dahulu. Air dari sumur tua dianggap sebagai air yang paling murni. Airnya digunakan untuk minum, memasak, dan menjalankan kegiatan sehari hari. Dalam masyarakat tradisional, keberadaan sumur mencerminkan kemampuan manusia dalam mengenali dan menjaga sumber air agar tetap berkelanjutan. Mereka mempelajari tanda tanda alam, mengetahui di mana air tersimpan, dan memahami bahwa sumber air harus diperlakukan dengan hormat.

Ketika kita melihat rangkaian prasasti, batu besar, dan sumur tua ini, kita dapat merasakan bahwa Jember memiliki sejarah panjang yang dipenuhi kehidupan masyarakat yang menghargai alam. Prasasti Batu Gong, meski tidak memberikan cerita langsung, menjadi saksi bisu masyarakat yang pernah memuja gunung dan menjadikan batu sebagai media pengetahuan. Prasasti Congapan, dengan kalimat singkatnya, menunjukkan bahwa mereka ingin memastikan ingatan tentang masa itu tidak hilang begitu saja. Reruntuhan batu dan sumur tua memberi petunjuk tentang kehidupan sehari hari yang bertumpu pada alam, terutama pada air yang digunakan sebagai sumber minum dan kebutuhan rumah tangga.

Kisah mengenai prasasti dan sumur ini mengajak pembaca untuk merenungkan betapa pentingnya air bagi kehidupan. Dari masa ke masa, masyarakat Jember selalu bergantung pada sumber air yang bersih dan lestari. Sumur sumur tua menunjukkan bahwa leluhur kita memahami pentingnya menjaga alam agar air tetap mengalir dan dapat dikonsumsi. Mereka menggunakan pengetahuan lokal untuk menemukan air, merawatnya, dan menghargainya sebagai anugerah terbesar dari bumi.

Melalui cerita ini kita belajar bahwa hubungan manusia dengan alam tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari kebutuhan untuk bertahan hidup dan rasa hormat terhadap sumber kehidupan. Menjaga air berarti menjaga masa depan. Nilai nilai ini, yang diwariskan melalui prasasti dan sumur tua, mengingatkan kita bahwa kesejahteraan hanya bisa dicapai jika kita menghormati alam, melindungi sumber air, dan melestarikan warisan nenek moyang untuk generasi berikutnya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.