Di ujung paling timur Kabupaten Sumenep, tersebar gugusan pulau yang tampak seperti permata kecil di atas permukaan laut biru. Kepulauan Sapeken adalah wilayah yang dikelilingi lautan luas, terletak di antara Laut Jawa, Laut Bali, Laut Kalimantan, dan Laut Sulawesi. Dari kejauhan, pulau pulau itu tampak tenang, tetapi sebenarnya menyimpan sejarah panjang dan budaya yang berbeda dari Madura daratan.
Menurut cerita yang diwariskan turun temurun, Kepulauan Sapeken pertama kali ditemukan oleh para pelaut dari Sulawesi. Mereka adalah kelompok Bajau, Mandar, dan Bugis yang terkenal sebagai pengelana laut. Konon, angin besar membawa rombongan perahu mereka ke wilayah ini. Saat mereka menepi, mereka menemukan daratan kecil yang ditumbuhi pohon kelapa, rumput laut yang melimpah, serta perairan dangkal yang dipenuhi ikan. Mereka merasa seperti menemukan rumah yang baru.
Masyarakat percaya bahwa pada masa itu ada seorang pelaut Bajau bernama Lamuru yang memimpin perjalanan. Lamuru dikenal memiliki kemampuan membaca ombak dan angin dengan sangat tepat. Ia sering mengatakan bahwa laut adalah bahasa yang bisa dibaca oleh hati yang tenang. Dalam legenda Sapeken, diceritakan bahwa Lamuru mendengar suara halus dari arah timur, suara yang mengajak mereka singgah di sebuah tempat yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Suara itu berasal dari arus laut yang membawa berkah.
Ketika rombongan Lamuru tiba di pulau yang kemudian dinamakan Sapeken, mereka menemukan kehidupan baru. Mereka membangun rumah rumah panggung dari kayu yang ringan namun kuat. Rumah itu didirikan di atas tiang agar aman dari pasang laut dan menjadi simbol kebijaksanaan orang orang laut. Meski sederhana, rumah panggung tersebut selalu hangat, karena di dalamnya keluarga saling berbagi cerita setelah seharian menjaring ikan.
Sejak hari pertama, kehidupan masyarakat Sapeken sepenuhnya bergantung pada laut. Air yang mengelilingi pulau adalah sumber segalanya. Ikan, kerang, gurita, cumi, teripang, dan rumput laut menjadi bahan pangan utama. Hasil laut inilah yang membuat Sapeken dikenal hingga pelosok Nusantara. Rumput laut dari Sapeken memiliki kualitas yang sangat baik, warnanya cerah, teksturnya tebal, dan rasanya renyah ketika diolah menjadi manisan atau campuran makanan. Sementara ikan hasil tangkapan para nelayan diolah menjadi ikan asap, ikan kering, atau dimasak menjadi hidangan sederhana dengan bumbu khas Sulawesi.
Menurut legenda yang beredar di antara para nelayan tua, Lamuru pernah berpesan bahwa laut akan memberi rezeki pada siapa saja yang menjaganya. Karena itulah masyarakat Sapeken selalu memperlakukan laut sebagai sahabat sekaligus guru. Mereka tidak mengambil ikan secara berlebihan. Ada aturan adat yang melarang nelayan menangkap ikan tertentu pada bulan tertentu agar populasinya tetap lestari. Aturan ini masih dipatuhi hingga sekarang dan menjadi bukti bahwa masyarakat lokal memiliki kearifan ekologis jauh sebelum istilah itu dikenalkan secara modern.
Hingga kini, suara ombak di Sapeken masih menjadi irama kehidupan sehari hari. Anak anak kecil belajar berenang sebelum mereka bisa berlari di daratan. Para ibu menjemur rumput laut di halaman rumah panggung mereka yang luas. Para lelaki pergi melaut saat matahari masih merah di ufuk timur, membawa harapan baru untuk keluarga.
Namun kehidupan di Sapeken juga penuh tantangan. Karena pulau pulau tersebut berjauhan, sarana dan prasarana yang dibutuhkan tidak selalu tersedia dengan mudah. Tetapi masyarakat tidak menyerah. Mereka berdagang antar pulau, saling membantu, dan terus menjaga tradisi laut yang menghidupi mereka sejak dulu.
Legenda Lamuru mengajarkan bahwa tanah yang baik tidak selalu berada di daratan luas. Kadang tanah yang terbaik justru berupa pulau kecil yang dikelilingi air. Dari laut itulah masyarakat belajar tentang kesabaran, keberanian, dan rasa syukur. Pangan laut bukan sekadar makanan, tetapi simbol hubungan antara manusia dengan alam. Ikan dan rumput laut menjadi pengingat bahwa rezeki datang dari air yang dijaga, dihormati, dan tidak dieksploitasi.
Kisah Sapeken adalah kisah tentang bagaimana manusia menemukan rumah di tengah lautan dan membangun kehidupan dengan memelihara alam di sekitarnya. Dari pangan laut yang melimpah hingga budaya yang lahir dari gelombang dan angin, semuanya menjadi bukti bahwa kearifan lokal dapat bertahan sepanjang zaman. Sapeken mengajarkan bahwa keindahan dan kelimpahan tidak selalu datang dari apa yang besar dan ramai. Kadang ia hadir dalam bentuk pulau kecil yang sederhana, yang menyimpan cinta, kesabaran, serta penghormatan pada alam yang memberi kehidupan.