
Di Desa Bangsopotro, Kecamatan Saradan, Madiun, terdapat sebuah punden tua yang hingga kini masih dikeramatkan oleh masyarakat. Punden itu dikenal sebagai Punden Joko Lelono, yang berada di area pemakaman umum desa. Dari luar, tempat ini tampak sederhana, dikelilingi pagar besi dengan pintu masuk menghadap ke selatan. Namun bagi masyarakat setempat, punden ini menyimpan kisah panjang yang sarat dengan nilai budaya dan kearifan alam.
Di dalam punden, berdiri empat pohon besar yang menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Pohon-pohon itu adalah asam, jati, trembesi, dan ringin. Masing-masing pohon memiliki makna serta kegunaan yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Pohon asam, misalnya, menghasilkan buah yang sejak lama dipakai sebagai bumbu masakan, memberi rasa asam segar pada makanan tradisional Jawa. Pohon jati dikenal karena kayunya yang kuat untuk bahan bangunan, daunnya yang lebar untuk membungkus makanan, bahkan kepompong ulat jati yang hidup di daunnya dapat dimakan. Pohon trembesi memberi keteduhan luas dengan cabangnya yang rimbun, sementara pohon ringin atau beringin kerap dilihat sebagai lambang peneduh sekaligus penjaga tempat keramat.
Makam Joko Lelono terletak di bawah pohon asam, seakan pohon itu menjadi pelindung abadi bagi sang pengembara yang dahulu dipercaya membabad desa. Kisah lama menyebutkan bahwa Joko Lelono meninggal ketika mencoba mengambil sarang lebah di pohon jati. Pohon jati itu kini sudah mati, tetapi kehadirannya masih dikenang sebagai bagian dari cerita. Di bawah naungan pepohonan, tampak sisa-sisa bata kuno yang dahulu banyak berserakan, namun kini sebagian besar sudah hilang karena diambil orang.
Seiring waktu, makam Joko Lelono dipugar. Kini makam tersebut sudah dihiasi kijing keramik, dengan nisan dan cungkup yang menjaga kesakralannya. Namun, yang membuat tempat ini tetap hidup bukan hanya batu atau bangunan, melainkan keberadaan pohon-pohon besar yang membawa fungsi penting bagi kehidupan masyarakat. Dari bumbu dapur, obat tradisional, hingga pelindung dari panas, semuanya menyatu di satu tempat yang penuh makna.
Punden Joko Lelono tidak hanya menyimpan kisah leluhur, tetapi juga mengingatkan bahwa pangan dan alam selalu menjadi bagian dari kehidupan manusia. Pohon-pohon yang tumbuh di sana mengajarkan tentang manfaat, keselarasan, dan penghormatan kepada alam. Kisah ini meneguhkan keyakinan bahwa makanan dan obat bukan hanya berasal dari tanah yang digarap, melainkan juga dari hutan dan pepohonan yang tumbuh di sekitar pemukiman.