Pada abad kelima belas, suasana keraton Sumenep mendadak gempar. Ruang paseban yang biasanya dipenuhi ketenangan para abdi dalem berubah menjadi tempat bisik-bisik penuh kecemasan. Sang raja murung. Putri semata wayangnya, Raden Saini, yang lebih dikenal sebagai Raden Ayu Putri Kuning atau Pottre Koneng, dikabarkan tengah mengandung. Kabar itu bukanlah kabar bahagia, sebab sang putri belum menikah. Kehamilannya dianggap sebagai aib terbesar yang pernah menimpa keluarga keraton.
Ketika sang putri dimintai penjelasan, ia tetap teguh mengatakan bahwa ia tidak melakukan hal yang melanggar ajaran agama. Ia hanya bercerita bahwa dalam tidurnya, ia didatangi sosok lelaki tampan yang mengaku bernama Adi Poday, seorang pertapa. Pertemuan itu terjadi hanya dalam mimpi, dan setelah itu ia mendapati dirinya hamil. Tentu saja penjelasan itu sulit diterima akal sehat, membuat keraton semakin resah dan bingung.
Waktu berlalu dan sang putri melahirkan seorang bayi laki-laki tampan. Kulitnya bercahaya, seolah membawa sinar dari dunia lain. Namun, demi menjaga stabilitas kerajaan dan menghindari skandal besar, bayi itu harus disingkirkan dari keraton. Ia dibawa diam-diam dan ditinggalkan di Pakandangan, Bluto, tidak jauh dari kandang sapi milik Mpu Kelleng, seorang pandai besi yang hidup sederhana bersama istrinya.
Keajaiban kemudian terjadi. Setiap pagi, sapi perah milik Mpu Kelleng selalu keluar dari kandangnya tanpa sebab yang jelas. Sapi itu berjalan menuju tempat bayi itu dibuang, lalu menyusuinya dengan penuh kelembutan. Setelah itu, sapi tersebut kembali pulang seperti tidak terjadi apa-apa.
Mpu Kelleng mulai curiga karena setiap hari susu sapinya habis, padahal tidak ada yang memerahnya. Ia pun mengikuti sapi itu suatu pagi. Dari kejauhan, ia melihat pemandangan yang menggetarkan hatinya. Sapi itu sedang menyusui seorang bayi kecil yang tersenyum tenang dalam pelukannya.
Tanpa ragu, Mpu Kelleng mengambil bayi itu dan membawanya pulang. Ia dan istrinya menyambut bayi tersebut dengan penuh kebahagiaan, seolah alam menjawab doa panjang mereka untuk memiliki keturunan. Bayi itu kemudian diberi nama Jokotole. Sejak kecil, ia tumbuh sehat karena diberi makan dengan susu segar dari sapi perah keluarga itu. Susu sapi tidak hanya menjadi asupan pangan penting bagi tubuh kecil Jokotole, tetapi juga menjadi lambang kasih sayang antara manusia dan hewan yang hidup dalam keselarasan.
Menurut kisah babad, Jokotole tidak pernah benar-benar ditinggalkan oleh ayah gaibnya, Sacca Adiningrat atau Wagung Ru’yat, yang diyakini sebagai menantu gaib raja Sumenep. Dari kejauhan, ia selalu mengawasi tumbuh kembang anaknya. Kelak, ketika Jokotole dewasa, ia akan bertemu kembali dengan Adi Poday, pria yang hadir dalam mimpi ibunya. Kisah tentang pertemuan itu dituliskan dengan indah oleh Raden Werdisastra, menjadi salah satu babad yang paling terkenal di Tanah Madura.
Dalam banyak versi cerita rakyat Madura, Jokotole kelak tumbuh menjadi tokoh besar yang kesaktiannya dikenal luas. Namun, kisah kelahirannya selalu dihubungkan dengan pangan yang menolongnya sejak kecil yaitu susu sapi. Bagi masyarakat Madura, susu bukan hanya sekadar minuman. Ia adalah simbol kehidupan, kekuatan, dan keberlanjutan. Susu sapi menjadi gambaran betapa pentingnya pangan sehat dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi anak-anak. Di Madura, susu kerap digunakan sebagai penambah tenaga dan pemulih tubuh, baik untuk orang sakit maupun untuk pekerja yang membutuhkan stamina. Dengan demikian, kisah Jokotole menegaskan betapa besar peran pangan lokal dalam menjaga kesehatan dan masa depan generasi.