
Di tepi laut Madura, tepatnya di Pulau Mandangin, tersimpan sebuah kisah lama yang diwariskan turun-temurun. Cerita ini bukan hanya tentang cinta dan kesetiaan, tetapi juga tentang air sebagai sumber kehidupan yang menentukan nasib manusia.
Konon, pada suatu masa hiduplah sepasang kekasih bernama Ragapadmi dan Bangsacara. Mereka dikenal sebagai sepasang muda-mudi yang saling mencintai dengan tulus. Namun, cinta mereka tidak berjalan mulus. Pertentangan dari keluarga dan keadaan yang sulit membuat mereka memilih jalan tragis, meninggalkan dunia bersama-sama sebagai tanda kesetiaan yang tak terpisahkan.
Waktu pun bergulir. Tidak lama setelah peristiwa itu, sebuah perahu dagang berlayar menuju Palembang. Di tengah perjalanan, para pedagang di kapal kehabisan persediaan air minum. Kehausan menjadi ancaman besar, sebab tanpa air mustahil mereka dapat melanjutkan perjalanan jauh ke seberang laut. Dalam keadaan genting itu, mereka memutuskan singgah di Pulau Mandangin untuk mencari sumber air segar.
Seorang pedagang turun ke darat dan berkeliling pulau. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan jasad Ragapadmi dan Bangsacara yang terbaring di tanah bersama dua anjing setia yang menemani mereka. Hati pedagang itu dipenuhi iba. Ia tidak sanggup membiarkan jasad pasangan setia itu begitu saja tergeletak tanpa penghormatan terakhir.
Pedagang tersebut segera kembali ke kapal untuk mengambil cangkul dan peralatan lain. Bersama beberapa awak kapal, ia menggali tanah di pulau itu dan membuat dua liang kubur sederhana. Dengan penuh hormat, ia memakamkan Ragapadmi, Bangsacara, dan kedua anjing yang tidak pernah meninggalkan mereka. Setelah pemakaman usai, para pedagang kembali ke kapal dengan hati yang lebih tenang.
Dari kisah inilah masyarakat Mandangin percaya bahwa Pulau Mandangin memiliki hubungan erat dengan air. Air tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan jasmani, tetapi juga sebagai simbol kehidupan, kesetiaan, dan keberlanjutan. Peristiwa pedagang yang singgah karena kekurangan air menegaskan betapa pentingnya air sebagai sumber utama dalam perjalanan hidup manusia.
Kisah Ragapadmi dan Bangsacara pun dikenang sebagai pengingat bahwa cinta dan kesetiaan bisa abadi, sementara air tetap menjadi penopang kehidupan. Dari tanah Pulau Mandangin, cerita ini terus bergema hingga kini, mengalir seperti sumber air yang tak pernah kering dalam ingatan masyarakat Madura.