Di sebuah masa yang jauh sebelum kita lahir, ketika kisah-kisah masih dituturkan dari mulut ke mulut di bawah cahaya lampu minyak, hiduplah seorang tokoh gagah perkasa bernama Bangsacara. Ia dikenal di kalangan rakyat Madura sebagai lelaki setia dan berani, seorang abdi yang tak pernah menolak titah raja. Kesetiaannya membuat banyak orang menghormatinya, bahkan namanya bergema di desa tempat ia tinggal.
Pada suatu hari, datanglah kabar dari Patih Bangsapati yang membawa pesan dari Raja Widarba. Pesan itu berbunyi bahwa Bangsacara diminta untuk melakukan perburuan di sebuah tempat jauh, yaitu Pulau Mandangin. Bukan sembarang buruan, sang raja memerintahkan agar Bangsacara berburu rusa, hewan yang dianggap istimewa dan bernilai tinggi. Rusa pada masa itu bukan hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga melambangkan kekuatan, kelincahan, dan kemakmuran.
Sebagai seorang abdi setia, Bangsacara tidak menaruh rasa curiga sedikit pun pada titah tersebut. Dengan hati tulus, ia menerima perintah itu seakan-akan itu adalah kehormatan besar baginya. Ia pun bersiap meninggalkan desanya, membawa serta dua ekor anjing setia yang selalu menemaninya dalam setiap perburuan. Kedua anjing itu seakan mengerti tugas mulia tuannya, sebab mereka berlari-lari riang di sisinya, menunggu saat untuk mengejar rusa di hutan Pulau Mandangin.
Pulau Mandangin sendiri diceritakan sebagai tempat yang penuh misteri. Pepohonan rindang tumbuh rapat, dan suara burung bercampur dengan desir angin laut yang menyapu pesisirnya. Di tengah hutan itu, rusa-rusa liar hidup bebas, berlarian dengan anggun di antara pepohonan. Tidak mudah menangkapnya, sebab rusa dikenal dengan kelincahannya. Namun, bagi seorang pemburu ulung seperti Bangsacara, perburuan ini bukanlah sesuatu yang menakutkan.
Dengan langkah mantap, Bangsacara memasuki hutan Pulau Mandangin. Kedua anjingnya menggonggong pelan, tanda bahwa hewan buruan sudah dekat. Ia tahu, sebentar lagi akan terlihat sekawanan rusa yang selama ini hanya diceritakan orang-orang dengan penuh kagum. Bagi Bangsacara, rusa itu bukan hanya hasil buruan yang bisa dimakan dagingnya, tetapi juga bagian dari pengabdian pada raja dan bukti kesetiaan seorang abdi kepada tuannya.
Begitulah awal mula kisah yang kelak membawa Bangsacara dalam perjalanan hidup penuh liku. Dari sebuah perintah berburu rusa, sejarah hidupnya terukir dan menjadi dongeng turun-temurun yang tak lekang dimakan waktu. Hingga kini, masyarakat masih mengenang kisahnya sebagai pengingat tentang arti kesetiaan, pengabdian, serta bagaimana seekor rusa pernah menjadi bagian penting dalam cerita rakyat Madura.