Randuboto

URL Cerital Digital: https://www.facebook.com/gresiknews/posts/desa-randuboto-di-kecamatan-sidayu-kabupaten-gresik-memiliki-asal-usul-yang-unik/1287394930059026/

Pada masa lampau, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Randuboto hanyalah hutan lebat yang ditumbuhi pepohonan liar. Tanahnya berupa alas gambut yang sulit dijamah manusia. Daerah itu sering kali hanya dilewati musafir yang berkelana menyusuri pesisir utara Jawa, dari Tuban hingga Ujungpangkah.

Dikisahkan, suatu hari seorang musafir singgah di tengah perjalanan panjangnya. Tubuhnya letih setelah menempuh jarak jauh. Ia mencari tempat berteduh dan menemukan sebuah pohon randu yang menjulang tinggi dengan batang besar menaungi tanah di bawahnya. Di samping pohon itu tergeletak susunan batu bata kuno. Musafir itu lalu beristirahat, dan sejak saat itulah wilayah tersebut dikenal dengan nama Randuboto, gabungan dari kata “randu” dan “batu.”

Seiring waktu, tempat yang tadinya hanya persinggahan mulai didatangi kelompok-kelompok pendatang dari berbagai penjuru. Mereka membawa bahasa, dialek, dan adat istiadat yang berbeda. Meskipun beragam, mereka memilih untuk bermukim, membersihkan lahan gambut, dan menjadikannya tanah yang subur untuk bercocok tanam. Pohon randu tetap menjadi penanda, seakan menjadi saksi lahirnya sebuah komunitas baru yang kelak berkembang menjadi Desa Randuboto.

Randu bukan hanya penanda wilayah, melainkan juga sumber manfaat. Buah randu menghasilkan kapuk, serat putih lembut yang digunakan sebagai isi bantal, kasur, dan penopang kenyamanan rumah tangga. Biji randu bahkan bisa diolah menjadi minyak sederhana yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk sebagai bahan pangan alternatif. Kehadiran pohon randu membuat masyarakat di sekitarnya tidak hanya terlindungi dari panas matahari, tetapi juga memiliki sumber daya penting untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Selain itu, letak Desa Randuboto di tepi Bengawan Solo membawa berkah lain. Sungai besar ini menyediakan ikan yang melimpah dan menjadi jalur penting perdagangan hasil bumi. Dari sawah yang ditata oleh penduduk, lahirlah padi yang menjadi makanan pokok sehari-hari, sementara dari tepi sungai mereka memperoleh tambahan pangan untuk melengkapi gizi keluarga.

Kini, Randuboto telah berubah wajah. Desa yang dahulu hanyalah hutan gambut kini menjadi kawasan yang tertata rapi. Pohon randu dan batu bata yang dahulu memberi nama pada desa tetap hidup dalam ingatan warga, mengajarkan bahwa setiap nama memiliki cerita, dan setiap pangan yang lahir dari bumi memiliki peran dalam menguatkan kehidupan manusia.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.