
Di tanah Tuban, yang dahulu menjadi salah satu pusat penting di pesisir utara Jawa, tersimpan kisah tentang seorang tokoh gagah bernama Ranggalawe. Ia dikenal sebagai adipati yang bijak sekaligus berani, namun dalam cerita rakyat ini, namanya lekat pula dengan sebuah jamuan besar yang menghadirkan minuman khas daerah, yakni arak Tuban.
Kisah ini bermula dari sebuah perjamuan yang diselenggarakan Ranggalawe untuk menyambut tamu-tamunya, Sudrasana dan Suryanata, yang datang bersama pasukan mereka. Dalam suasana akrab dan penuh penghormatan, Ranggalawe sendiri menuangkan arak ke dalam gelas para tamunya.
“Silakan, Tuan. Saya yang akan menuangkan arak Tuban ini untuk Anda,” ucapnya sambil mengangkat botol berisi minuman itu.
Namun Sudrasana, dengan sopan, mencoba menolak. “Cukup, Paman Ranggalawe. Jika terlalu banyak, saya bisa mabuk. Bukankah begitu, Paman Lembu Sura?” katanya sambil menoleh pada sahabat Ranggalawe.
Lembu Sura segera menimpali dengan wajah penuh keyakinan. “Jangan khawatir, Tuan. Ini arak asli Tuban, arak terbaik di negeri ini. Rasanya tak tertandingi. Silakan cicipi lagi.”
Suasana perjamuan pun semakin riuh. Gelas demi gelas arak dituangkan, membuat para tamu asing dari Tar Tar larut dalam keriangan. Mereka makan dan minum dengan berlebihan, hingga kewaspadaan pun hilang bersama kendali diri. Dalam keadaan itu, Ranggalawe dan Lembu Sura tetap menemani, menyembunyikan maksud tersirat di balik keramahan mereka.
Arak dalam kisah ini bukan sekadar minuman. Ia menjadi simbol sekaligus alat untuk menggambarkan bagaimana budaya jamuan dapat memengaruhi keadaan. Bagi masyarakat Tuban, arak telah lama dikenal sebagai bagian dari tradisi lokal. Di satu sisi, ia menjadi kebanggaan daerah sebagai minuman hasil olahan yang khas. Namun di sisi lain, arak juga membawa pesan bahwa segala sesuatu yang berlebihan dapat menjerumuskan manusia pada kelengahan.
Cerita Ranggalawe ini menegaskan bagaimana pangan, bahkan dalam wujud minuman, memainkan peran penting dalam jalannya sejarah dan legenda. Arak Tuban hadir sebagai bagian dari identitas, tetapi juga sebagai pengingat bahwa keseimbangan adalah kunci. Dalam setiap jamuan, kebersahajaan lebih berharga daripada berlebihan.