Rondo Mori

URL Cerital Digital: https://suarabojonegoro.com/legenda-di-berbagai-desa-buaya-putih-jelmaan-rondo-mori/#google_vignette

Di tengah hamparan wilayah Bojonegoro yang dialiri Sungai Bengawan Solo, terdapat sebuah legenda yang jarang dibicarakan meski kisahnya menjalar dari desa ke desa. Nama tokoh itu adalah Rondo Mori, sosok perempuan yang kehadirannya begitu melegenda namun tetap diselimuti misteri. Desa Mori, yang terletak di tepi sungai, pernah dikenal sebagai tempat pengungsian. Namun siapa sejatinya Rondo Mori, tidak seorang pun dapat memastikan. Warga setempat hanya mewarisi cerita yang berpindah dari generasi ke generasi, seolah angin malam membawa kembali jejak perempuan itu ke telinga mereka.

Konon, Rondo Mori memiliki kesaktian untuk berubah menjadi seekor buaya besar berwarna putih. Di sejumlah cerita, ada yang mengaku pernah melihat kemunculan buaya putih di perairan Bengawan Solo, terutama pada malam malam tertentu yang dianggap keramat. Para tetua di Desa Mori sering berkata bahwa setiap kemunculan buaya putih adalah isyarat agar masyarakat tetap menjaga sungai dan tanah tempat mereka menggantungkan hidup.

Namun legenda Rondo Mori tidak hanya tinggal dalam ingatan warga di sepanjang Bengawan Solo. Di selatan Bojonegoro, sekitar enam puluh lima kilometer dari Trucuk, masyarakat Dusun Kadung di Desa Sambongrejo juga menyimpan kisah yang sama. Di sana, sebuah air terjun dan aliran sungai dipercaya sebagai petilasan langkah Rondo Mori. Banyak yang meyakini bahwa perempuan dalam cerita ini meninggalkan jejak berupa sumber air jernih yang terus memancar hingga kini.

Cerita masyarakat setempat mengungkap bahwa hingga beberapa tahun lalu keturunan Rondo Mori masih menjalankan sebuah ritual lelaku ider ider. Ritual ini dilakukan oleh para janda keturunan Rondo Mori, dengan tokoh terakhir yang sering disebut adalah seorang perempuan tua bernama Mbah Dami. Uniknya, mereka yang mengaku masih berada dalam garis keturunan Rondo Mori hampir selalu berstatus janda, sehingga rumah yang disebut sebagai peninggalan garis keturunan itu kini dihuni oleh tiga janda.

Ritual ider ider ini dilaksanakan sebagai bentuk napak tilas perjalanan Rondo Mori. Setiap Jumat pada masa dahulu, sang janda pemimpin ritual akan menyusuri aliran sungai sambil membawa selendang berwarna hijau. Ujung selendang itu dicelupkan ke air kemudian dikibaskan ke berbagai penjuru. Masyarakat percaya bahwa cipratan air tersebut membawa berkah, terutama bagi lahan pertanian mereka yang sangat bergantung pada kesuburan tanah dan ketersediaan air bersih.

Hubungan masyarakat dengan legenda ini tidak berhenti pada kepercayaan spiritual saja. Di Bojonegoro, ritual pertanian dan hasil pangan juga memiliki ikatan dengan kisah Rondo Mori. Di Desa Mori sendiri terdapat tradisi sedekah bumi yang selalu dilakukan setelah sedekah bumi di Desa Jetak. Sedekah bumi adalah wujud syukur atas panen padi dan hasil bumi lainnya. Pangan menjadi inti dari ritual ini karena masyarakat menyadari bahwa segala keberkahan tidak lepas dari kemampuan alam memberi makan kepada manusia. Dalam bayangan masyarakat setempat, kehadiran Rondo Mori selalu dikaitkan dengan air bersih yang memastikan padi tumbuh subur dan lahan pertanian tetap hidup.

Namun seiring berjalannya waktu, banyak hal berubah. Kondisi lingkungan semakin terancam dan kesadaran budaya perlahan memudar. Ritual ider ider kini hanya dilakukan setahun sekali dan semakin sedikit orang yang memahami makna di baliknya. Meski begitu, legenda Rondo Mori tidak pernah benar benar hilang. Ia masih menjadi benang merah yang menghubungkan masyarakat dari Trucuk, Sambongrejo, hingga Bojonegoro Kota.

Di balik kisah kesaktian dan kehadiran buaya putih, legenda Rondo Mori membawa pesan yang lebih dalam. Ia mengingatkan bahwa air adalah penopang hidup. Air yang jernih membuat padi tumbuh, padi memberi makan manusia, dan pangan mengikat masyarakat dalam kebersamaan. Ronde demi ronde ritual sedekah bumi menunjukkan rasa syukur yang turun temurun, menggambarkan betapa eratnya hubungan manusia dengan alam dan leluhurnya.

Akhirnya legenda Rondo Mori mengajarkan bahwa menjaga alam bukan hanya kewajiban tetapi juga bentuk penghormatan pada jejak masa lalu. Ketika air tetap jernih, tanah tetap subur, dan pangan tetap mengalir di meja rumah rumah warga, maka masyarakat telah merawat warisan yang jauh lebih besar daripada sekadar cerita. Mereka menjaga keseimbangan yang menjadi sumber kehidupan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.