Sejarah Desa Dongko

URL Cerital Digital: https://dongko.kabartrenggalek.com/2023/01/berita-terbaru-dari-kecamatan-dongko.html?m=1

Di wilayah pegunungan selatan Trenggalek, berdirilah sebuah desa yang namanya begitu akrab di telinga masyarakat hingga hari ini. Desa itu bernama Dongko, sebuah nama yang lahir dari kisah lama tentang dua pohon besar yang pernah menjadi saksi perjalanan manusia pada masa penuh gejolak. Pohon itu adalah pohon bendo yang berbatang kokoh dan pohon nongko atau nangka yang menghasilkan buah manis dan bermanfaat bagi pangan masyarakat. Kedua pohon ini bukan hanya bagian dari alam, tetapi juga bagian dari kisah asal-usul yang membentuk identitas Desa Dongko.

Pada masa lampau, kawasan yang kini menjadi Desa Dongko dikenal sebagai daerah yang rawan. Pepohonan tumbuh lebat dan jalan setapak membelah hutan, menjadikannya tempat ideal bagi para perampok untuk menghadang pedagang yang melintas. Banyak warga dan pelancong yang kehilangan barang dagangan bahkan nyawa, karena serangan para penjahat yang bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan.

Ketika kejadian itu semakin meresahkan, Kerajaan Mataram yang kala itu berkuasa mengirimkan seorang prajurit terbaik untuk menumpas para perampok. Sang prajurit menyusuri hutan, menelusuri jejak para penjahat, hingga akhirnya berhasil menumpas mereka satu per satu. Perjuangannya panjang dan melelahkan. Setelah berhasil mengamankan kawasan tersebut, sang prajurit duduk beristirahat di bawah dua pohon besar yang tumbuh berdekatan, yaitu pohon bendo dan pohon nongko. Di antara keteduhan daun dan kesejukan angin pegunungan, ia menghela napas lega dan bersyukur karena tugasnya telah selesai.

Untuk mengenang titik tempat sang prajurit beristirahat ini, masyarakat kemudian menamai wilayah itu dengan menggabungkan nama kedua pohon tersebut menjadi satu kata, yaitu Dongko. Nama itu menjadi simbol ketenteraman baru, tanda bahwa daerah tersebut telah kembali aman setelah lama dihantui ketakutan.

Namun masyarakat juga menyimpan kisah lain. Menurut versi kedua, nama Dongko diberikan oleh seorang pangeran yang singgah dan kemudian menetap di wilayah tersebut. Pangeran itu dikenal berwibawa dan jujur, sehingga warga menyebutnya sebagai Eyang Ronggo. Ia sering memandikan kerbaunya di sungai dekat permukiman, lalu mengikat hewan-hewan itu pada dua pohon besar yang sama, pohon bendo dan pohon nongko. Kedua pohon itu tumbuh begitu dekat hingga akhirnya tampak seolah menyatu, menjadi penanda alam yang begitu mudah dikenal. Untuk menghormati Eyang Ronggo dan kebiasaannya, masyarakat menyebut kawasan itu sebagai Dongko, nama yang kemudian bertahan hingga kini.

Di balik kisah dua pohon itu, Dongko ternyata memiliki sejarah yang jauh lebih tua. Wilayah ini telah dilalui manusia sejak zaman prasejarah. Jejak jalur perpindahan manusia purba dari Pacitan menuju Tulungagung mengarah tepat melalui kawasan Dongko. Pada masa berikutnya, wilayah ini juga sempat berada di bawah pemerintahan kerajaan, kemudian bergabung dengan Kabupaten Pacitan, sebelum akhirnya resmi menjadi bagian dari Kabupaten Trenggalek setelah tahun 1950.

Kisah tentang pohon bendo dan nongko dalam sejarah Desa Dongko mengingatkan kita bahwa alam kerap menjadi bagian penting dari perjalanan manusia. Buah nongko yang manis dan bergizi, serta pohon bendo yang kuat, mencerminkan bagaimana alam memberi makan, melindungi, dan menuntun manusia. Dari dua pohon itulah lahir nama sebuah desa, lahir identitas, dan lahir kisah tentang keberanian serta kebijaksanaan.

Pada akhirnya, legenda ini mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak pernah terputus. Pohon dapat menjadi saksi sejarah, sumber pangan, dan penanda identitas. Menjaga alam berarti menjaga warisan, dan menghargai jejak masa lalu berarti memelihara masa depan bersama.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.