Sejarah Desa Gayam

URL Cerital Digital: https://gayam-panggul.trenggalekkab.go.id/first/artikel/2

Di antara perbukitan yang menghijau di wilayah Trenggalek bagian selatan, terdapat sebuah desa yang namanya lahir dari kehadiran satu pohon besar yang berdiri teguh selama puluhan bahkan ratusan tahun. Pohon itu adalah pohon gayam, pohon khas tanah Jawa yang dikenal berukuran besar dengan daun yang rimbun serta buah yang dapat dimanfaatkan sebagai pangan dan obat. Dalam ingatan para sesepuh, pohon gayam yang tumbuh di wilayah ini bukan sekadar penanda alam, tetapi juga saksi perjalanan awal masyarakat yang kelak membentuk Desa Gayam.

Dahulu kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Gayam masih berupa tanah kosong yang sunyi. Hutan tumbuh lebat, dan jalanan belum terbentuk jelas. Di tengah kesunyian itulah berdiri satu pohon gayam raksasa yang begitu mencolok. Akarnya mencengkeram tanah dengan kuat, batangnya begitu besar hingga beberapa orang dewasa tidak mampu memeluknya sekaligus, dan dedaunannya memberi keteduhan yang luas. Keberadaan pohon ini menjadi semacam penanda alam yang memudahkan para pendatang untuk mengenali arah dan mencari tempat beristirahat ketika melintasi kawasan tersebut.

Buah gayam yang jatuh dari pohonnya kerap dipungut oleh para pelintas. Masyarakat masa itu sudah mengetahui bahwa buah gayam dapat dimanfaatkan sebagai makanan setelah melalui proses perendaman dan pengolahan tertentu. Tidak hanya itu, beberapa bagian dari pohon gayam diyakini dapat digunakan untuk keperluan pengobatan sederhana. Dari akar hingga daunnya, pohon ini memberi manfaat nyata bagi kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar.

Seiring waktu, semakin banyak orang singgah dan menetap di wilayah sekitar pohon gayam ini. Mereka membuka lahan, membuat gubuk, dan membentuk permukiman kecil. Setiap kali ada pendatang baru, para sesepuh menunjuk pohon tersebut sebagai pusat wilayah, sebuah titik yang tidak hanya menjadi penanda lokasi tetapi juga simbol penyokong kehidupan. Karena begitu pentingnya peran pohon gayam dalam sejarah awal desa, masyarakat kemudian sepakat memberi nama wilayah itu sebagai Desa Gayam.

Nama itu bertahan hingga hari ini, mengikat cerita masa lalu dengan kehidupan masyarakat modern. Meskipun pohon gayam yang menjadi asal-usul nama desa mungkin telah hilang atau berubah bentuk seiring perjalanan waktu, ingatan kolektif masyarakat tetap menyimpannya sebagai bagian dari identitas dan sejarah yang tidak dapat tergantikan.

Cerita tentang Desa Gayam memberi pesan bahwa hubungan manusia dengan alam adalah fondasi yang membangun keberlanjutan. Satu pohon dapat memberi perlindungan, pangan, obat, sekaligus menginspirasi lahirnya komunitas baru. Pohon gayam mengajarkan bahwa alam tidak hanya menyediakan kebutuhan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari budaya, sejarah, dan jati diri masyarakat. Pada akhirnya, kearifan lokal mengingatkan bahwa menjaga alam adalah menjaga diri sendiri, sebab dari alam itulah kehidupan manusia berakar dan berkembang.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.