
Di sebuah lembah subur di Trenggalek, terdapat sebuah desa yang namanya begitu akrab di telinga masyarakat setempat, yaitu Desa Ngrandu. Nama desa ini bukan muncul begitu saja, melainkan lahir dari sebuah kisah lama tentang sebuah pohon randu yang menjulang tinggi di halaman seorang tokoh penting desa. Pohon randu, yang buahnya dapat dimanfaatkan sebagai kapas dan beberapa bagiannya dapat digunakan untuk kebutuhan pangan, menjadi penanda sejarah awal mula desa tersebut.
Menurut cerita turun-temurun, di masa ketika wilayah itu masih berupa hamparan pemukiman kecil, hiduplah seorang tokoh masyarakat bernama Irokromo. Ia dipercaya sebagai Kepala Desa pertama yang memimpin dengan bijaksana dan menjadi panutan masyarakat. Di pekarangan rumahnya tumbuh sebuah pohon randu besar yang menjadi tempat orang berkumpul, berteduh, atau sekadar beristirahat setelah bekerja di ladang. Pohon itu begitu mencolok dan dianggap sebagai penanda wilayah, sehingga masyarakat mulai menyebut daerah tersebut sebagai Ngrandu, yang berasal dari kata randu.
Pohon randu bagi masyarakat Ngrandu bukan hanya sekadar peneduh. Buahnya menghasilkan kapas yang bisa diolah untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, seperti bantal dan selimut. Selain itu, beberapa bagian pohonnya dimanfaatkan dalam kebutuhan pangan tertentu, menjadikannya sumber daya yang penting bagi kehidupan warga. Kehadiran pohon itu mencerminkan betapa erat hubungan manusia dan alam dalam membentuk identitas suatu tempat.
Seiring waktu, wilayah desa semakin meluas dan masyarakatnya terus bertambah. Desa Ngrandu kini terbagi menjadi empat dusun, yaitu Dusun Guwo, Dusun Crabak, Dusun Depok, dan Dusun Babadan. Setiap dusun memiliki kekhasan dan kehidupan masyarakatnya sendiri, tetapi seluruhnya tetap terhubung oleh sejarah yang sama, yakni kisah tentang pohon randu yang menjadi cikal bakal penamaan desa mereka.
Meski pohon randu itu mungkin tidak lagi berdiri setegap dulu, jejaknya masih hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Ngrandu. Pohon itu mengajarkan bahwa alam sering menjadi penanda awal kehidupan manusia, sumber pangan, sumber perlindungan, dan simbol kebersamaan. Dari sekeping kapas hingga perlindungan dari panas matahari, pohon randu menggambarkan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan.
Kisah Desa Ngrandu menjadi pengingat bahwa kearifan lokal selalu tumbuh dari hal-hal sederhana. Pohon yang dulu mungkin dianggap biasa, nyatanya membentuk identitas seluruh desa. Melalui kisah ini, kita belajar bahwa alam bukan hanya latar belakang kehidupan manusia, tetapi juga mitra yang perlu dihormati dan dijaga. Dengan melindungi alam, masyarakat sesungguhnya sedang menjaga sejarah dan masa depan mereka sendiri.