Sejarah Desa Plumbangan

URL Cerital Digital: https://desaplumbangan.wordpress.com/tentang-desa/

Di lereng perbukitan Blitar yang sejuk, tepat di antara aliran sungai dan hamparan sawah yang subur, terdapat sebuah desa yang telah hidup lebih dari seribu tahun lamanya. Desa itu kini dikenal sebagai Desa Plumbangan, tetapi pada masa kejayaan Kerajaan Kediri, masyarakat menyebutnya sebagai Desa Panumbangan. Nama itu menjadi saksi perjalanan panjang sebuah komunitas yang sangat bergantung pada sumber air sebagai denyut kehidupan mereka.

Pada masa pemerintahan Raja Sri Aji Jayabaya, desa ini dikenal sebagai wilayah yang tenteram. Penduduknya bekerja sebagai petani yang menggemburkan tanah, penggembala sapi kerajaan, serta perawat kuda perang yang gagah. Setiap pagi mereka menuju Kali Tiko untuk mengambil air minum, memasak, dan mandi. Air sungai itu adalah sumber kehidupan, penopang pangan harian, dan menjadi pusat aktivitas masyarakat Panumbangan. Selama bertahun-tahun, mata air dan sungai tetap jernih, memberikan ketenangan bagi mereka yang hidup di sekitarnya.

Namun ketenteraman itu pecah ketika makhluk halus bernama Waroklidro mulai mengacau. Raja jin itu mendiami kawasan pasetran sumur Gumuling, kini dikenal sebagai punden Blumbang, dan setiap hari ia mengganggu warga yang hendak mengambil air. Kadang ia merusak kendi air, kadang menampakkan wujud menakutkan yang membuat warga ketakutan hingga pulang tanpa membawa setetes air pun. Ancaman itu membuat keseharian masyarakat berubah. Ladang mulai kering, kebutuhan pangan terganggu, dan warga hidup dalam keresahan.

Seorang penggembala sapi akhirnya memberanikan diri pergi ke Kediri untuk menyampaikan keluh kesah rakyat Panumbangan. Ia diterima oleh Raja Jayabaya, tetapi sang raja tidak dapat turun langsung ke desa terpencil itu. Ia kemudian memerintahkan agar bantuan diminta kepada seorang Begawan di pasetran Pandan Rowo, sebuah tempat suci di daerah Watu Gede, Wlingi.

Begawan itu memahami bahwa Waroklidro tidak dapat dikalahkan hanya dengan kekuatan fisik. Ia memutuskan membangun sebuah candi sebagai penjebak spiritual. Maka didirikanlah Candi Lawang atau Candi Watu Lawang. Ketika bangunan itu selesai, Waroklidro terpikat. Ia duduk bersila di depan candi dengan penuh kagum. Saat itulah Sang Begawan menyiramkan tirta suci pemusnah. Air sakral itu, yang selama ini menjadi simbol kesejahteraan dan kesucian, berubah menjadi senjata yang mengakhiri kekuasaan jin pengganggu tersebut. Waroklidro lenyap tanpa jejak, dan ketenangan di Panumbangan kembali pulih.

Dengan hilangnya ancaman di sumber air, masyarakat dapat kembali mengambil air dari Kali Tiko untuk keperluan pangan dan kehidupan sehari-hari. Sungai yang sempat menakutkan itu kembali menjadi pusat kehidupan desa. Sebagai penghargaan atas perjuangan dan penderitaan warga, desa Panumbangan diberi status perdikan, yaitu dibebaskan dari kewajiban membayar pajak kepada kerajaan. Status itu membuat masyarakat semakin bersatu dalam menjaga mata air dan sumber pangan mereka.

Setelah runtuhnya Majapahit, penduduk desa semakin sedikit. Hanya tersisa sekitar empat belas keluarga, termasuk pasangan Soka Sentono dan Sokawati yang kini makamnya dihormati sebagai leluhur Plumbangan. Desa itu tumbuh kembali perlahan, generasi demi generasi, hingga akhirnya pada masa kolonial terbentuk pemerintahan desa dengan Marto Djoyo sebagai kepala desa pertama pada awal abad ke-20.

Kini, Desa Plumbangan menjadi ruang hidup yang memadukan sejarah, alam, dan kearifan lokal. Mata air yang dulu diperebutkan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Air itu mendukung pertanian, kebutuhan harian, dan menjadi simbol bahwa alam selalu menyediakan kehidupan bagi mereka yang menjaganya.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa sumber air bukan sekadar unsur alam, tetapi pusat kesejahteraan yang membentuk peradaban desa. Masyarakat yang hidup di Plumbangan sejak dulu telah memahami bahwa air harus dijaga, dihormati, dan disyukuri. Melalui cerita tentang Waroklidro dan tirta suci, kita diingatkan bahwa harmonisasi antara manusia dan alam adalah kunci yang menjaga keberlangsungan pangan dan kehidupan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.