Sejarah Desa Siki

URL Cerital Digital: https://siki-dongko.trenggalekkab.go.id/index.php/first/artikel/2

Di lereng pegunungan Trenggalek yang sejuk, terdapat sebuah desa bernama Siki. Desa ini menyimpan beragam kisah lama yang diwariskan secara turun-temurun, kisah yang tak hanya membentuk identitas masyarakatnya, tetapi juga menyingkap hubungan erat antara manusia dengan alam. Di antara banyak cerita yang hidup di sana, terdapat pula kisah tentang tanaman sambutan, tumbuhan khas yang akarnya dimanfaatkan sebagai obat tradisional oleh penduduk setempat.

Menurut tuturan para sesepuh, berdirinya Desa Siki dimulai di daerah Gunung Cilik. Pada masa itu, para Wali yang menetap di kawasan tersebut memiliki seperangkat gong atau kerawitan yang dianggap sakral. Meskipun sakral, gong itu tetap bisa dipinjam oleh warga yang membutuhkan. Namun pada suatu hari, ketika seorang warga bernama Mertokromo meminjam gong tersebut, ia melihat bahwa salah satu talinya hampir putus. Ia pun berniat memperbaikinya dengan mengganti tali itu.

Tidak disangka, begitu tali gong itu diganti, seluruh seperangkat gong berubah menjadi batu. Gong-gong itu tidak lagi dapat dipindahkan ataupun digunakan. Hingga kini, batu-batu tersebut masih berjajar di Gunung Cilik dan bentuknya benar-benar menyerupai gong. Penduduk setempat kemudian menyebutnya sebagai Batu Gong, tanda bahwa musik para Wali pernah hidup dan kemudian membatu di tempat itu.

Kisah lain datang dari Gunung Tulak yang berada di Dukuh Gondang. Di puncak gunung itu terdapat sebuah batu besar bernama Batu Tumpang. Konon pada suatu hari, batu itu tiba-tiba terlepas dari tempatnya dan menggelundung menuruni gunung hingga mencapai Sawah Gede, tepat di daerah bengkok Kepala Desa. Penduduk gempar, sebab tidak ada yang sanggup mengembalikan batu sebesar itu.

Namun pada malam harinya, secara misterius batu tersebut kembali ke puncak Gunung Tulak. Menurut cerita, para Wali-lah yang memikul batu itu kembali menggunakan batang tepus sebagai pikulan dan akar tumbuhan sambutan sebagai talinya. Sejak saat itu, masyarakat percaya bahwa membawa pikulan dari batang tepus dan menggunakan tali dari akar sambutan di wilayah sekitar Gunung Tulak sangat dilarang. Mereka yakin bahwa jika pantangan dilanggar, Batu Tumpang dapat kembali menggelundung dan membawa bencana.

Gunung Tulak juga diyakini menjadi pelindung desa. Konon ada segerombolan perampok yang hendak masuk ke Desa Siki. Namun sesampainya di perbatasan desa, mereka tiba-tiba tidak bisa melihat apa pun. Desa itu tampak gelap gulita bagi mereka, seolah ditutup oleh tirai gaib. Para perampok kebingungan dan akhirnya memilih kembali pulang tanpa menyentuh wilayah Siki. Kisah ini memperkuat keyakinan bahwa Gunung Tulak menyimpan kekuatan penjaga bagi masyarakat desa.

Dari berbagai cerita tersebut, nama Siki pun menjadi sebutan yang melekat hingga kini. Di antara kisah-kisah mistis dan kepercayaan lokal itu, tanaman sambutan memiliki tempat tersendiri. Akar tumbuhan ini telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional, menjadi sumber penyembuhan alami bagi warga. Tanaman ini tumbuh subur di lereng gunung dan hutan-hutan sekitar desa, seakan menjadi anugerah yang menjaga kesehatan masyarakat dari masa ke masa.

Kisah Desa Siki mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak hanya tentang mengambil manfaat, tetapi juga tentang penghormatan, kehati-hatian, dan kesadaran akan keseimbangan. Tanaman sambutan, batu-batu sakral, dan gunung penjaga adalah simbol kearifan lokal yang mengingatkan kita bahwa alam memiliki bahasanya sendiri. Selama manusia menjaga alam dengan rasa hormat, alam pun akan menjaga mereka kembali.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.