Sejarah Desa Wonorejo

URL Cerital Digital: https://wonorejo-gandusari.trenggalekkab.go.id/first/artikel/38

Di kaki pegunungan Trenggalek bagian utara, membentang sebuah wilayah yang dulu hanyalah hutan lebat, sunyi, dan belum tersentuh tangan manusia. Pohon-pohon besar tumbuh saling berhimpitan, rantingnya bersinggungan membentuk kubah hijau yang meneduhkan tanah di bawahnya. Di antara pohon-pohon itu, pohon asem berdiri dengan buahnya yang masam segar, buah yang kelak menjadi bagian penting kehidupan masyarakat setempat sebagai bahan makanan, minuman, hingga bumbu masakan.

Dalam suasana hutan belantara inilah seorang tokoh bernama Ki Prawiro Kusumo datang untuk pertama kalinya. Ia adalah sosok yang diyakini memiliki hubungan keturunan dengan keraton Solo, seorang perantau yang membawa pengetahuan, keberanian, dan tekad membuka wilayah baru. Dengan tekun ia mulai membersihkan semak, menebang pohon, dan membuka jalur yang cukup untuk menciptakan permukiman kecil. Dari kerja kerasnya muncul perkampungan pertama, yang kemudian berkembang menjadi cikal bakal Desa Wonorejo.

Nama Wonorejo berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu wono yang berarti hutan dan rejo yang berarti ramai. Kata itu mencerminkan perubahan besar yang terjadi di wilayah tersebut. Dari hutan yang senyap, kawasan itu pelan-pelan dipenuhi suara manusia yang bekerja, anak-anak berlarian, dan aktivitas masyarakat yang terus berkembang.

Seiring bertambahnya pendatang, lahan yang dibuka kian meluas. Dari aktivitas membuka kebun dan hutan itu, terbentuklah beberapa dusun yang kini menjadi bagian integral Desa Wonorejo. Setiap dusun lahir dari cerita dan kegiatan sehari-hari warganya. Dusun Kebon, misalnya, mendapat namanya dari banyaknya kebun yang baru dibuka. Dusun Duren berasal dari kata leren, tempat para pekerja berhenti sejenak untuk mengumpulkan tenaga. Dusun Sampang memiliki sejarah dari asam pang, karena banyak dahan pohon asem berserakan setelah ditebang saat pembersihan lahan. Sementara Dusun Setri dinamakan demikian karena banyak perempuan yang ikut membantu membuka hutan sambil menyiapkan makanan bagi para pria, menunjukkan betapa besar peran perempuan dalam sejarah desa ini.

Hingga kini, masyarakat Wonorejo masih mengenal peninggalan bernama Watu Lorek, batu besar yang konon dulunya berada bersama peralatan seperti lesung dan alu. Meskipun peralatan itu sudah tidak ada, batu itu tetap berdiri sebagai saksi bisu sejarah pembukaan wilayah Wonorejo.

Dalam keseluruhan kisah ini, pohon asem menjadi lambang penting yang tidak dapat dilepaskan dari identitas masyarakat Wonorejo. Buah asem tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan kuliner sehari-hari, tetapi juga menjadi saksi sejarah pembukaan lahan dan lahirnya dusun-dusun yang kini menjadi rumah bagi ratusan keluarga. Asem dapat diolah menjadi minuman penyegar, menjadi bumbu masakan yang menambah cita rasa, atau dimakan langsung ketika masih muda. Fungsi pangan yang begitu luas memperlihatkan bahwa alam memberi lebih dari yang terlihat oleh mata, asalkan manusia mampu merawat dan menghormatinya.

Cerita asal-usul Desa Wonorejo mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan alam adalah pondasi kehidupan. Hutan yang dibuka dengan kerja sama, makanan yang dibuat bersama, hingga dusun-dusun yang dinamai dari aktivitas sederhana sehari-hari, menunjukkan betapa kuatnya nilai kebersamaan dan gotong royong. Alam menyediakan kebutuhan pangan, sementara manusia belajar mengelola dengan bijak. Kisah ini mengingatkan kita bahwa perkembangan sebuah desa bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat menjaga harmoni dengan alam, menghargai jejak para leluhur, dan meneruskan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi berikutnya.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.