
Di kaki pegunungan Pasuruan, ada sebuah dusun yang namanya begitu sederhana, namun sarat makna. Dusun itu disebut Kemiri. Nama ini bukan sekadar penanda wilayah, melainkan cerminan dari kekayaan alam yang dahulu menjadi bagian penting dari kehidupan penduduknya.
Konon, cikal-bakal Dusun Kemiri dimulai dari dua tokoh yang disegani, Mbah Sumo dan Mbah Jasmito. Pada suatu masa, keduanya melakukan perjalanan menembus hutan belantara yang masih perawan. Pepohonan menjulang tinggi, suara satwa liar terdengar dari kejauhan, dan aroma tanah basah menebar di udara. Di tengah perjalanan itu, mereka tiba di sebuah tempat yang begitu khas: hutan yang dipenuhi pohon kemiri.
Buah kemiri menggantung di cabang-cabang, kulitnya keras, dan bijinya mengandung minyak yang harum. Bagi Mbah Sumo dan Mbah Jasmito, keberadaan pohon-pohon itu bukanlah kebetulan. Mereka merasa tempat ini memiliki daya tarik tersendiri, seolah mengundang untuk ditinggali. Maka, keduanya memutuskan berhenti di sana, menebang sebagian hutan, lalu membuka lahan untuk dijadikan tempat tinggal.
Seiring berjalannya waktu, langkah mereka diikuti oleh orang lain. Satu per satu keluarga datang, membangun rumah sederhana, bercocok tanam, dan hidup berdampingan dengan alam. Pohon kemiri menjadi penanda sekaligus saksi tumbuhnya sebuah permukiman baru. Karena banyaknya pohon kemiri di sekitar tempat itu, penduduk sepakat menamai kampung mereka dengan nama Dusun Kemiri.
Kemiri tidak hanya menjadi asal-usul nama, tetapi juga hadir sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Biji kemiri diolah menjadi bumbu dapur yang memperkaya rasa masakan. Minyaknya memberikan aroma khas, sementara teksturnya yang lembut setelah ditumbuk sering dipakai sebagai bahan pengental alami dalam berbagai hidangan tradisional Jawa Timur. Setiap masakan yang diberi sentuhan kemiri akan terasa lebih gurih dan harum, seakan menyimpan kehangatan dari tanah tempat pohon itu tumbuh.
Hingga kini, nama Dusun Kemiri tidak pernah lepas dari cerita masa lalu. Warga percaya bahwa tanpa pohon kemiri, dusun ini mungkin tidak akan pernah lahir. Cerita Mbah Sumo dan Mbah Jasmito terus dikenang, diceritakan dari generasi ke generasi, agar orang selalu ingat bahwa kemiri bukan hanya bumbu dapur, tetapi juga akar sejarah dan identitas masyarakat.