Sendang Jolotundo

URL Cerital Digital: https://sekilasmedia.com/2025/01/sendang-jolotundo-legenda-majapahit-yang-penuh-sejarah-di-mojokerto/

Sendang Jolotundo merupakan salah satu situs bersejarah di Mojokerto yang menyimpan kisah legenda kuat sejak masa Kerajaan Majapahit. Menurut cerita yang disampaikan oleh Saiman, seorang sesepuh desa sekaligus juru kunci sendang, mata air ini diyakini muncul dari hentakan kaki kuda milik Mahapatih Gajah Mada. Dalam sebuah pertempuran besar pada masa Majapahit, Gajah Mada dikisahkan terpisah dari kudanya. Sang kuda, yang berlari ke arah utara hingga Desa Jolotundo, dikatakan kehausan lalu menghentakkan kakinya ke tanah. Dari hentakan itulah muncul mata air yang kini dikenal sebagai Sendang Jolotundo.

Selain legenda Gajah Mada, sejarah desa ini juga dikaitkan dengan dua tokoh pembuka wilayah, yaitu Mbah Waono dan Nyi Pandan Sari. Keduanya dipercaya sebagai sosok yang “babat alas” atau membuka kawasan hutan belantara hingga menjadi permukiman. Sejak saat itu, keberadaan sendang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat sekitar, digunakan sebagai sumber air minum dan tempat ritual tertentu.

Secara fisik, sendang ini berbentuk persegi dengan ukuran sekitar tujuh meter dan kedalaman empat meter yang mengecil di bagian dasar. Di sekelilingnya terdapat beberapa pohon besar yang dililit kain kuning simbol penghormatan dalam tradisi Jawa serta akar pohon beringin yang menjuntai dan tampak seperti ular. Keunikan lainnya adalah air sendang yang disebut-sebut tak pernah surut, bahkan saat musim kemarau panjang. Lebih menarik lagi, warga meyakini bahwa air sendang dapat berubah warna menjadi putih, kuning, hijau, atau biru. Menurut Saiman, fenomena ini benar-benar pernah ia saksikan sendiri, dan juga diketahui oleh banyak warga setempat.

Sendang Jolotundo juga dikenal sebagai tempat yang dipercaya memiliki khasiat penyembuhan. Banyak pengunjung dari berbagai daerah mulai dari Solo, Cepu, Jakarta, Blitar, hingga Banyuwangi datang untuk mengambil air sendang. Mereka meyakini bahwa air tersebut dapat membantu menyembuhkan berbagai penyakit. Meski demikian, Saiman selalu menegaskan bahwa air tersebut hanyalah perantara, dan kesembuhan sepenuhnya tetap atas kehendak Tuhan.

Selain nilai spiritualnya, sendang ini menjadi pusat berbagai tradisi adat. Warga setempat rutin mengadakan kenduren pada malam Jumat Legi atau menggelar tasyakuran sebelum hajat besar. Namun, Saiman menyayangkan bahwa tradisi ini kini hanya dilakukan oleh sebagian kecil warga yang masih memegang teguh warisan leluhur. Meski demikian, Sendang Jolotundo tetap menjadi ruang budaya yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, sekaligus menjadi bukti kekayaan sejarah Mojokerto yang masih hidup hingga sekarang.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.