Setono Gedong Doho dan Sumur Gumuling

URL Cerital Digital: https://www.pasak.or.id/2023/09/carita-pepundhen-mediyun-menelusuri.html

Di Madiun, terdapat sebuah kisah lama yang menyatu dengan sejarah, legenda, dan kehidupan masyarakat. Cerita ini tidak hanya menghadirkan tokoh-tokoh besar dalam perjalanan dakwah Islam di Jawa, tetapi juga menyingkap asal-usul sumber air penting yang hingga kini diyakini sebagai berkah. Air itu berasal dari Sumur Gumuling, yang dahulu dijadikan sumber kehidupan, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan air minum.

Alkisah, Sunan Kalijaga pernah diutus oleh gurunya, Sunan Ampel, untuk menjelaskan sejarah Panaraga kepada Bathara Kathong. Ia berangkat bersama empat orang pengikutnya, hingga pada suatu siang mereka beristirahat di tengah hutan. Sunan Kalijaga duduk di atas sebongkah batu sambil berdakwah kepada para pengikutnya. Saat itulah terdengar suara tangisan lirih dari bawah batu yang ia duduki.

Setelah batu itu diangkat, tampaklah seekor cacing yang sedang menangis. Sunan Kalijaga bertanya mengapa ia bersedih. Cacing itu menjawab bahwa ia menangis karena mendengarkan dakwah yang disampaikan. Hatinya tergerak untuk menjadi manusia agar bisa memahami dan mengamalkan ajaran itu. Mendengar permohonan tulus tersebut, Sunan Kalijaga berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Doanya dikabulkan. Sang cacing pun menjelma menjadi seorang putri yang cantik jelita. Pada saat yang sama, dari bawah tanah memancar sumber air jernih yang kelak dikenal sebagai Umbul Ngumbul.

Air itu sejak dulu dipandang suci. Masyarakat menjadikannya tempat untuk berdoa, memohon kesembuhan, dan menjalankan upacara nyadran. Fungsi utamanya adalah sebagai sumber air minum yang menyegarkan, hadiah dari doa seorang wali dan kesucian niat sang Putri Cacing.

Sebelum meninggalkan tempat itu, Sunan Kalijaga memberi pesan kepada sang putri. Ia akan menjadi ratu di daerah tersebut dan kelak akan kedatangan dua lelaki yang memperebutkan hatinya. Putri harus memilih salah satu sebagai pasangan, sementara yang lain dijadikan patih. Ia juga berpesan agar sang putri selalu memberi air kepada siapa pun yang membutuhkan.

Namun, perjalanan tidak berjalan mulus. Putri Cacing akhirnya memang menjadi ratu, tetapi muncul perselisihan antara dua pria bernama Setrawijaya dan Setramiruda yang memperebutkan cintanya. Intrik, perang, dan tipu daya mewarnai perebutan itu. Di tengah kekacauan, hadir pula seorang tokoh bernama Nerangkusumo, yang suatu kali meminta air dari sumur. Namun, ia ditolak. Dalam kemarahannya, ia menendang sumur tersebut hingga airnya berguling. Dari situlah muncul nama Sumur Gumuling.

Waktu berlalu, Sunan Kalijaga kembali mendatangi tempat itu. Ia bermaksud meminta air, tetapi sang Putri Cacing kembali menolak. Sang wali pun murka. Ia mengingatkan bahwa putri itu berasal dari cacing, dan karena ingkar pada pesan awal, ia dikutuk kembali menjadi cacing. Istana yang pernah berdiri megah seketika berubah lagi menjadi hutan. Dari sinilah lahir nama-nama dusun yang ada hingga kini, seperti Dusun Cacingan, Dusun Pondok, dan Dusun Gelang.

Bagi masyarakat Madiun, kisah ini bukan sekadar dongeng. Ia menjadi penanda pentingnya air sebagai sumber kehidupan. Sumur Gumuling tidak hanya memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga menghadirkan nilai rohani, menjadi tempat memohon berkah dan kesembuhan. Hingga hari ini, sumber air tersebut tetap dikenang sebagai anugerah yang mengikat erat antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.