
Di sebuah sudut tenang di Kabupaten Malang terdapat sebuah situs purbakala yang menyimpan kisah panjang tentang hubungan manusia dengan air. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Situs Petirtaan Desa Ngawonggo. Sejak berabad abad lalu, tempat ini menjadi sumber air yang memberi kehidupan. Dahulu petirtaan ini digunakan sebagai tempat mandi, tempat penyucian diri, serta ruang spiritual bagi masyarakat kerajaan. Kini petirtaan tersebut tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber air, tetapi juga disakralkan sebagai peninggalan bernilai tinggi yang menghubungkan masa kini dengan sejarah yang jauh di belakang.
Situs Petirtaan Ngawonggo merupakan peninggalan masa Kerajaan Medhang Kamulan pada era keemasan Mpu Sindok sekitar tahun 944 Masehi. Petirtaan ini disebut dalam Prasasti Wurandungan, prasasti kuno yang mengungkap banyak informasi tentang wilayah suci dan pusat kegiatan spiritual pada zaman itu. Dalam catatan tersebut muncul istilah Sang Hyang Kaswangga, salah satu gugusan kahyangan yang dipercaya sebagai wilayah suci. Kata Kaswangga diyakini menjadi akar nama Ngawonggo, tempat yang hingga kini tetap menyimpan aura kesucian.
Petirtaan ini adalah bangunan kuno yang dibuat dengan ketelitian tinggi. Air jernih mengalir dari mata air di dalam kompleksnya, menciptakan suasana sejuk yang menenangkan. Dahulu air ini digunakan oleh para bangsawan dan pendeta kerajaan sebagai tempat pembersihan lahir dan batin. Sebagai bagian dari ritual, mandi di petirtaan suci dianggap mampu memberikan ketenangan, kekuatan spiritual, dan perlindungan. Sumber air ini juga digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari hari, terutama sebagai air minum dan air bersih.
Dalam kehidupan agraris di sekitar Ngawonggo, keberadaan sumber air sangat penting. Air dari petirtaan mengalir ke berbagai lahan pertanian warga. Tanah di sekeliling desa menjadi subur karena aliran air yang stabil, membuat petani mampu menanam padi, sayur sayuran, dan tanaman pangan lain. Sumber air ini bukan sekadar tempat ritual, tetapi juga pusat kehidupan yang memberi makan banyak keluarga. Dengan menjaga air tetap bersih, masyarakat memastikan bahwa sawah sawah mereka terus menghasilkan panen yang baik.
Pada tahun 2017 dilakukan penggalian arkeologis untuk mengungkap kembali bentuk asli petirtaan. Hasil penggalian menunjukkan bahwa situs ini memiliki posisi penting dalam jaringan pemukiman kuno serta kegiatan spiritual pada masa Mpu Sindok. Bentuk bangunan yang dihasilkan menunjukkan bahwa petirtaan ini bukan sekadar tempat mandi biasa. Ia dibangun dengan pertimbangan simbolis, spiritual, dan fungsional, menyatukan unsur air dalam kehidupan kerajaan lama.
Kini situs ini dijaga dengan penuh hormat oleh masyarakat. Airnya tetap jernih dan mengalir, dan petirtaan dianggap sebagai ruang sakral yang tidak boleh dirusak. Pengunjung yang datang biasanya merasakan ketenangan mendalam ketika berdiri di tepi kolam. Suara air yang mengalir lembut dan bayangan pepohonan di sekelilingnya memberi suasana damai, seolah mengajak siapa pun untuk merenung tentang hubungan manusia dengan alam.
Kisah Situs Petirtaan Ngawonggo mengajarkan bahwa sumber air bukan hanya tentang kebutuhan fisik, tetapi juga tentang ikatan spiritual dan budaya. Air menghidupkan, membersihkan, dan menyambungkan manusia dengan masa lalu. Masyarakat Ngawonggo menjaga petirtaan ini dengan hati hati karena mereka memahami bahwa air adalah warisan yang harus dirawat. Dari situs ini kita belajar bahwa kearifan lokal tidak hanya berbentuk legenda atau cerita rakyat, tetapi juga dalam cara masyarakat merawat peninggalan dan sumber daya alam yang telah memberikan kehidupan selama berabad abad.