Sombher Kolla

URL Cerital Digital: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/2306/1/Antologi%20Cerita%20Rakyat%20Jawa%20Timur.pdf

Di sebuah dusun bernama Kaljan yang terletak di wilayah Jawa Timur, terdapat sebuah sumber air kecil yang menjadi nadi bagi kehidupan warganya. Masyarakat di sana hidup sederhana, sebagian besar bekerja sebagai petani padi. Setiap hari mereka turun ke sawah demi menjaga keberlanjutan lumbung beras keluarga. Bagi mereka, beras bukan sekadar makanan, tetapi lambang ketabahan, kesabaran, dan rezeki yang harus disyukuri. Namun sawah tidak dapat tumbuh subur tanpa air. Karena itu, keberadaan sumber air sekecil apa pun sangat berarti.

Pada suatu waktu, seorang tokoh bijaksana bernama Ki Agung Sejarah mendengar kabar tentang sebuah sumber air yang unik di dekat gua tua di Dusun Kaljan. Beberapa hari setelah ditemukannya sumber ini oleh warga, ia kembali lagi untuk memastikan kondisi sumber tersebut. Hatinya dipenuhi rasa penasaran, terlebih karena kabar mengatakan bahwa meski kecil, airnya selalu cukup untuk seluruh warga desa.

Ketika Ki Agung Sejarah tiba, gua tempat sumber itu ditemukan masih tertutup rapat oleh bebatuan dan semak alami. Namun suara gemericik air terdengar jelas, menandakan kehidupan yang mengalir perlahan. Air itu tampak jernih berkilau di permukaan tanah, memantulkan cahaya matahari pagi yang menyelinap di sela pepohonan. Ki Agung Sejarah lalu duduk mendekat sambil mengamati debit airnya.

Ia pun mulai mengukur dengan penuh ketelitian. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan bahwa sumber itu hanya dapat menampung satu kullah air atau volume yang setara dengan sekitar dua puluh lima liter. Tidak lebih dan tidak kurang. Setiap kali air tertampung hingga batas itu, permukaannya tetap tenang, tidak pernah meluap meski hujan turun, dan tidak pernah mengering bahkan di musim kemarau yang paling panjang.

Keanehan semakin terasa karena meskipun kapasitasnya sangat terbatas, warga Dusun Kaljan tidak pernah kekurangan air. Setiap hari mereka mengambil secukupnya untuk kebutuhan rumah, menyiram tanaman padi muda, dan memasak nasi untuk keluarga. Seakan sumber itu memahami batas kebutuhan manusia. Airnya bagaikan rezeki yang tidak pernah putus. Kecil tetapi berkahnya tak terhingga. Sumber itu mengalir dengan lembut, namun mampu menjaga kehidupan seperti lumbung padi yang tidak pernah kosong.

Hari demi hari berlalu dan masyarakat semakin menghargai sumber tersebut. Mereka merawatnya, membersihkan lingkungannya, dan tidak pernah mengambil lebih dari kebutuhan. Bagi mereka, sumber satu kullah itu adalah titipan Tuhan yang harus dijaga. Sama seperti beras yang tumbuh di sawah, air itu tidak hanya menjadi kebutuhan fisik tetapi juga pengingat spiritual bahwa rezeki selalu cukup bagi mereka yang bersyukur dan tidak melampaui batas.

Begitulah kisah Sumber Satu Kullah di Kaljan. Cerita ini mengajarkan bahwa kesederhanaan dapat melahirkan kelimpahan. Dalam dunia yang sering memuja kelimpahan besar, sumber kecil ini menunjukkan bahwa yang penting bukan seberapa besar yang kita miliki, tetapi seberapa bijak kita menggunakan apa yang ada. Alam memberikan tanda bahwa jika manusia menjaga keseimbangan dan tidak serakah, maka kehidupan akan tetap berjalan penuh keberkahan. Semoga masyarakat masa kini dapat mengambil hikmah ini, menjaga alam sebagaimana mereka menjaga ladang padi dan sumber air, serta memahami bahwa kecukupan sejati datang dari rasa syukur dan kebijaksanaan.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.