
Di tanah Blambangan yang subur, hiduplah seorang perempuan cantik jelita bernama Sri Tanjung. Kecantikannya dipuji banyak orang, bukan hanya karena parasnya yang anggun, tetapi juga karena kelembutan tutur kata serta kesetiaan hatinya. Sri Tanjung bersuami pada seorang patih gagah bernama Sidopekso, tangan kanan raja yang terkenal setia dan jujur. Kehidupan mereka penuh kebahagiaan, dilandasi cinta yang tulus.
Namun, kedamaian rumah tangga itu terusik oleh hasrat seorang penguasa. Raja Sulakrama, pemimpin Blambangan, diam-diam menaruh hati pada Sri Tanjung. Kelembutan dan kecantikannya membuat sang raja tergoda. Saat Sidopekso tengah menjalankan tugas keluar kerajaan, Raja Sulakrama memanggil Sri Tanjung ke istana. Tetapi maksud kedatangannya bukanlah urusan negara, melainkan keinginan untuk memiliki istri patihnya sendiri.
Sri Tanjung menolak dengan tegas. Dengan suara yang mantap, ia berkata, “Ampun, Tuanku. Aku adalah istri Patih Sidopekso. Kesetiaan adalah kehormatanku, dan kehormatan adalah hidupku.”
Penolakan itu melukai hati Raja Sulakrama. Dendam pun tumbuh dalam dirinya. Ketika Sidopekso kembali dari tugasnya, raja menabur fitnah. Dengan wajah pura-pura prihatin, ia berkata bahwa Sri Tanjung telah mencoba merayunya.
Sidopekso yang begitu percaya pada ucapannya raja langsung diliputi amarah. Tanpa memberi kesempatan istrinya untuk menjelaskan, ia menyeret Sri Tanjung ke tepian sungai. Angin berembus pelan, pepohonan terdiam, dan suara air mengalir menjadi saksi keputusan yang tragis.
Di tepi sungai itu, Sri Tanjung berkata dengan linangan air mata, “Jika benar aku bersalah, biarlah darahku berbau busuk. Namun bila aku tidak bersalah, maka darahku akan harum sebagai tanda kebenaranku.”
Dengan pasrah ia menerima nasibnya. Sidopekso pun mengakhiri hidupnya di sana. Saat darahnya jatuh ke air sungai, terjadi keajaiban. Air itu memancarkan wangi yang lembut, bukan bau busuk. Aroma suci memenuhi udara, menandai kesetiaan yang tak ternoda. Pohon-pohon bergeming, angin terhenti, dan sungai menjadi saksi kebenaran yang tak bisa disangkal.
Sidopekso tersadar. Penyesalan merobek hatinya. Ia telah membunuh istri yang setia karena termakan fitnah. Dengan hati hancur, ia kembali ke istana dan menuntut pengakuan. Raja Sulakrama pun mengakui perbuatannya. Namun semua sudah terlambat.
Sri Tanjung telah tiada, namun namanya hidup abadi dalam aliran sungai yang harum. Dari peristiwa itulah lahir nama Banyuwangi, yang berarti air yang wangi. Bukan sekadar penanda sebuah daerah, melainkan simbol berkah, kesetiaan, dan pengorbanan seorang perempuan yang rela mempertaruhkan hidup demi menjaga kehormatan.
Air Banyuwangi hingga kini diyakini sebagai berkah yang membawa kebaikan bagi kehidupan. Ia bukan hanya sumber penghidupan, melainkan juga warisan moral yang mengajarkan betapa pentingnya kesetiaan, kejujuran, dan kehormatan.