Di antara hamparan pedesaan yang tenang di Kecamatan Dasuk, terdapat mata air yang tidak hanya menjadi sumber kehidupan, tetapi juga menyimpan kisah yang melekat dalam ingatan masyarakat sejak ratusan tahun silam. Sumber itu dikenal dengan nama Sumber Duko. Letaknya hanya sekitar seratus meter dari Sumber Patellessan yang telah lama dikaitkan dengan perjalanan Pottre Koneng, tokoh penting dalam sejarah Sumenep. Walaupun sederhana dalam tampilan, Sumber Duko menyimpan jejak cerita yang membuatnya dihormati hingga kini.
Menurut penuturan Faruq Dardiri, seorang tokoh muda dari Desa Kecer, Pottre Koneng sering mampir ke Sumber Duko setelah berwudhu di Patellessan. Kisah ini terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Dasuk. Walaupun tidak ada catatan tertulis yang dapat dijadikan rujukan pasti, cerita ini tetap hidup karena diyakini sebagai bagian dari perjalanan keseharian sang putri bangsawan yang dikenal dengan nama Raden Ayu Saini.
Nama Duko sendiri memiliki sejarah penamaan yang unik dan penuh makna. Menurut cerita para sesepuh, saat Pottre Koneng tiba di mata air itu, ia tersadar bahwa patellessan atau kain penutup mandinya tertinggal di Sumber Patellessan yang baru saja ia tinggalkan. Dalam keheranannya, sang putri mengucap kalimat dalam bahasa Madura Duuh, koo, tang patellessan ceccer yang bermakna aduh, kain penutup mandiku tertinggal. Ungkapan itu kemudian dikenal oleh masyarakat sekitar dan lama kelamaan menempel menjadi nama tempat tersebut, yaitu Duko.
Bagi warga Desa Bates, keberadaan Sumber Duko bukan sekadar saksi bisu kisah masa lampau. Airnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, mulai dari memasak, minum, hingga menjaga keberlangsungan tanaman pangan di ladang dan sawah mereka. Seperti halnya sumber air lain di Madura, Sumber Duko menjadi bagian penting dalam ketahanan pangan masyarakat. Air jernihnya mengalir stabil sepanjang tahun sehingga warga memiliki pasokan tetap untuk menanam padi, sayur mayur, dan kebutuhan pokok lainnya.
Peran air sebagai penopang pangan terasa begitu dekat di sini. Di sekitar Sumber Duko, tanah menjadi lebih subur, tanaman lebih mudah tumbuh, dan warga tidak perlu terlalu khawatir akan kekeringan yang kerap datang di musim tertentu. Kehadiran mata air ini menjadi pengingat bahwa alam Madura, meski tampak keras dan berbatu, tetap menyelipkan ruang ruang kehidupan yang siap memberikan rezeki bagi mereka yang merawatnya.
Legenda Pottre Koneng dan penamaan Sumber Duko memberikan gambaran bahwa kearifan lokal tidak hanya hidup dalam cerita, tetapi juga dalam hubungan masyarakat dengan alam yang mereka jaga bersama. Ungkapan sederhana yang keluar dari mulut seorang putri ratusan tahun lalu kini menjadi penanda tempat yang terus menghidupi banyak keluarga. Kisah ini mengajarkan bahwa setiap unsur alam memiliki cerita dan nilai yang patut dihargai.
Melalui dongeng kecil tentang Duko, kita memahami bahwa air tidak hanya menjadi sumber kebutuhan dasar, tetapi juga bagian dari identitas dan pangan masyarakat. Di balik setiap tetes air, terdapat sejarah, budaya, dan keharmonisan yang terjalin antara manusia dengan alam. Dari Sumber Duko, kita belajar bahwa menghormati alam berarti menjaga keberlangsungan hidup, menghargai warisan leluhur, serta menyadari bahwa kesejahteraan sejati selalu lahir dari keselarasan yang dijaga dengan sepenuh hati.