Sumur di Pantai Mak Dengkeng

URL Cerital Digital: https://www.lontarmadura.com/batu-mak-dengkeng-di-pulau-sakala/

Pulau Sakala di ujung timur Madura adalah pulau kecil yang terlihat tenang namun sarat misteri. Angin laut yang lembut membawa aroma asin khas pesisir, seolah menyimpan cerita yang telah berusia ratusan tahun. Di antara semak dan pohon kelapa yang berbaris di tepi pantai, terdapat sebuah kawasan keramat yang dikenal masyarakat hingga sekarang. Di tempat itulah berdiri tiga titik penting yang dipercaya saling terhubung, yaitu Mak Dengkeng, sebuah liang atau goa, dan dua sumur tua yang disebut sebagai sumur suami istri.

Konon, zaman dahulu di Sakala hidup masyarakat yang sangat menghormati alam. Mereka percaya bahwa setiap tempat memiliki penjaganya sendiri. Liang yang berada di bukit kecil pulau itu dianggap sebagai pintu penghubung ke dunia gaib. Masyarakat sering bercerita tentang seseorang yang masuk ke goa itu. Ia melangkah melalui lorong gelap yang seakan tidak berujung. Setelah berjalan lama, ia muncul di Mak Dengkeng, tempat yang terkenal dengan ritual ritual mistis. Bahkan cerita itu tidak berhenti di sana. Dikisahkan bahwa perjalanan gaib itu terus bersambung jauh hingga membawa sosok tersebut muncul di sebuah tempat di pulau Sulawesi.

Tidak ada yang tahu pasti kebenarannya. Ketika orang bertanya tentang kearifan di balik kisah itu, warga setempat sering menjawab dengan kalimat singkat. Dalam bahasa daerah mereka berkata Soro nemmo, yang berarti kurang lebih bahwa apa pun yang terjadi hanya Tuhan yang tahu.

Namun legenda paling menarik justru berada pada dua sumur tua yang letaknya tidak jauh dari liang tersebut. Sumur itu berdampingan tetapi airnya berbeda. Salah satu sumur beraroma sabun. Airnya lembut dan wangi seperti habis dipakai mandi seseorang yang baru mengenakan minyak harum. Masyarakat lalu menyebutnya sebagai sumur perempuan. Sementara sumur satunya lagi mengeluarkan air biasa yang segar dan murni. Sumur itu dinamakan sumur laki laki. Karena perbedaan tersebut masyarakat Sakala menyebut keduanya sebagai sumur suami istri.

Ada hal unik yang membuat tiga tempat itu semakin dipercaya memiliki hubungan batin. Jika ditarik garis lurus dari Mak Dengkeng menuju liang dan dilanjutkan ke sumur tua, semuanya berada pada satu garis yang sempurna. Para tetua desa meyakini bahwa garis itu bukan kebetulan. Dalam keyakinan lama, garis tersebut menunjukkan hubungan sakral yang menjaga keseimbangan alam Sakala.

Selain sebagai tempat keramat, sumur suami istri memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat. Air dari sumur laki laki digunakan untuk kebutuhan sehari hari seperti memasak, mengolah hasil laut, serta menghasilkan garam tradisional yang menjadi identitas pangan daerah tersebut. Garam dari Sakala dikenal memiliki rasa lebih kuat dan murni. Sebagian masyarakat meyakini bahwa kualitas garam itu dipengaruhi kesucian air sumur laki laki yang dianggap sebagai sumber kekuatan dan keteguhan.

Sementara sumur perempuan dipercaya memberi energi lembut bagi tumbuhnya tanaman pesisir seperti kelor, pandan laut, serta rumput laut yang sering dijadikan bahan pangan tambahan. Daun kelor dari pulau ini terasa lebih gurih dan sering dijadikan sayur bening untuk menghangatkan tubuh para nelayan sepulang melaut. Rumput lautnya pun diolah menjadi manisan dan jajanan tradisional yang dijual di pasar kecil pulau.

Masyarakat setempat meyakini bahwa keseimbangan antara dua sumur itu mencerminkan keseimbangan hidup manusia. Air perempuan memberi rasa, air laki laki memberi kekuatan. Dari keduanya, lahirlah sumber pangan yang menjaga keberlangsungan hidup warga Sakala.

Hingga kini legenda itu masih hidup. Meskipun tidak semua cerita dapat dibuktikan, masyarakat tetap memuliakan tempat tersebut. Sumur tua tetap dijaga, liang tetap dihormati, dan Mak Dengkeng tetap menjadi bagian dari identitas spiritual pulau.

Kisah ini mengingatkan bahwa hubungan antara manusia dan alam tidak sekadar tentang memanfaatkan sumber daya. Ia juga tentang rasa hormat, pemahaman, dan keseimbangan. Dari sumur suami istri, masyarakat Pulau Sakala mempelajari bahwa pangan lahir dari keberkahan air. Garam, rumput laut, dan tanaman pesisir bukan hanya makanan, tetapi wujud syukur atas alam yang memberi. Melalui legenda ini, kita diajak memahami bahwa kearifan lokal bukan hanya cerita lama, melainkan petunjuk bagaimana manusia seharusnya hidup berdampingan dengan alam, dengan rasa hormat dan tanggung jawab yang tidak pernah putus.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.