Di sebuah desa yang tenang di ujung timur Pulau Madura, tepatnya di Desa Janteh, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan, terdapat sebuah sumur yang sangat dikeramatkan oleh masyarakat. Sumur itu disebut Sumur Tantoh, atau sering juga disebut Sumur Bidadari. Bagi penduduk setempat, sumur ini bukan sekadar sumber air, tetapi juga warisan spiritual yang menyimpan misteri, kesembuhan, dan nilai-nilai luhur yang hidup hingga kini.
Menurut kisah yang diwariskan turun-temurun, Sumur Tantoh bukanlah hasil tangan manusia. Airnya pertama kali muncul secara ajaib di tengah tanah desa yang tandus. Masyarakat percaya bahwa sumur itu diciptakan oleh bidadari dari langit ketujuh. Pada malam yang tenang, konon tujuh bidadari turun ke bumi dan memunculkan pancuran air di tempat mereka berpijak. Saat fajar tiba, sumur itu telah ada, mengalirkan air jernih dan sejuk yang tak pernah kering meski musim kemarau panjang datang.
Kabar tentang sumur ajaib itu segera menyebar ke seluruh penjuru desa. Ketika pertama kali ditemukan, di tepi sumur tampak seekor kambing yang duduk diam di dekat air tersebut. Anehnya, setiap kali kambing itu dipindahkan, ia selalu kembali lagi ke sisi sumur. Warga menafsirkan hal itu sebagai pertanda bahwa sumur ini benar-benar sakral. Sejak saat itu, kambing dijadikan bagian penting dalam upacara slametan atau rokat, disertai tumpeng dan berbagai makanan tradisional. Upacara ini dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada penjaga gaib sumur tersebut.
Masyarakat percaya bahwa air Sumur Tantoh memiliki khasiat penyembuhan, terutama bagi penyakit saler (atau perut turun) yang identik dengan kaum laki-laki. Untuk melakukan pengobatan, ada serangkaian tata cara yang harus diikuti dengan penuh keyakinan. Prosesi dilakukan pada hari Jumat Wage dalam penanggalan Madura, tepat saat beduk pertama shalat Jumat berbunyi. Air diambil dengan hati-hati, lalu orang yang berobat akan dibalikkan tubuhnya dengan kepala di bawah sumur selama beberapa menit, sementara beberapa orang lain memegangi kakinya agar tetap seimbang.
Ritual ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Sebelum pengobatan dimulai, harus disiapkan tujuh macam jajanan pasar berwarna berbeda, seperti apem, klepon, lemper, dan kue cucur, sebagai sesajen simbol keseimbangan dan permohonan doa kepada Sang Pencipta. Masyarakat percaya bahwa warna-warni jajanan itu melambangkan tujuh langit tempat para bidadari berasal, dan bila syarat ini terpenuhi, air Sumur Tantoh akan menjadi obat yang mujarab.
Keanehan-keanehan lain juga melekat pada sumur ini. Hewan peliharaan tidak boleh dibiarkan melintas di sekitar sumur, karena dipercaya akan mati tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Begitu pula dengan pengantin laki-laki, baik warga setempat maupun pendatang, dilarang melewati area sumur pada hari pernikahannya. Bila dilanggar, dipercaya akan terjadi malapetaka bagi pernikahan itu.
Dalam kepercayaan masyarakat, pada malam-malam tertentu air Sumur Tantoh akan meluap hingga ke permukaan. Saat itu, bidadari penjaga sumur dipercaya turun dari langit untuk memandikan diri dan memberkati air agar tetap suci dan berkhasiat. Air yang muncul pada malam tersebut dianggap paling sakral dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
Hingga kini, Sumur Tantoh tetap menjadi tempat ziarah dan pengobatan tradisional. Warga dari berbagai daerah datang membawa harapan dan doa, memohon kesembuhan serta keselamatan hidup. Airnya tetap jernih dan sejuk, seolah menjadi saksi abadi akan keyakinan masyarakat yang memadukan antara iman, tradisi, dan rasa hormat terhadap alam.