Di tanah Gresik, terdapat kisah tentang seorang tokoh agung yang menjadi penerus kejayaan dinasti Giri. Dialah Sunan Prapen, putera Sunan Dalem dan cucu Sunan Giri, yang lahir sekitar tahun 1412 Saka. Sunan Prapen dikenal sebagai ulama besar, seorang pujangga, sekaligus empu pembuat keris. Salah satu karyanya yang masyhur adalah keris Suro Angun-angun, bukti keahliannya dalam dunia perkerisan.
Pada masa kepemimpinannya, Giri mencapai puncak kejayaan. Pengaruh Sunan Prapen meluas jauh, bahkan VOC menjulukinya sebagai Paus Islam atau Raja Imam. Ia memberikan restu dan berkah pada penobatan raja-raja Demak dan Pajang, serta memiliki wibawa hingga ke Kalimantan, Sulawesi, dan Lombok. Tidak heran bila haul Sunan Prapen yang diperingati setiap 15 Syawal selalu dipenuhi peziarah yang datang dari berbagai penjuru.
Makam Sunan Prapen berada di Desa Klangonan, Kebomas, hanya sekitar 400 meter di barat makam Sunan Giri. Kompleks makam ini terkenal dengan arsitektur cungkupnya yang penuh ukiran bernilai seni tinggi. Di jalan menuju makam, terdapat sebuah batu yang disebut watu dodok atau Yoni. Konon, pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak akan memperoleh keberkahan bila duduk bersama di atas batu tersebut. Kisah itu masih hidup di tengah masyarakat, menambah daya tarik spiritual makam Sunan Prapen.
Selain doa dan ziarah, haul Sunan Prapen juga menjadi momentum kebersamaan. Di Gresik, tradisi haul tidak pernah lepas dari sajian pangan khas yang diwariskan turun-temurun, yaitu pudak. Kudapan ini dibuat dari tepung beras, gula, dan santan, lalu dibungkus pelepah pinang sehingga aromanya khas dan rasanya legit. Pudak bukan hanya makanan, tetapi identitas masyarakat Gresik. Ia hadir sebagai suguhan bagi para peziarah dan tamu jauh, menjadi simbol bahwa sejarah dan budaya tetap hidup melalui rasa yang diwariskan.
Sunan Prapen meninggalkan jejak kejayaan Giri, sementara pudak meninggalkan jejak manis dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Keduanya sama-sama warisan yang tak ternilai, yang satu berupa ajaran dan kepemimpinan spiritual, dan yang lain berupa kuliner yang menyatukan rasa kebersamaan. Dari situlah kita belajar bahwa budaya dan pangan berjalan beriringan, menjaga jati diri masyarakat Jawa Timur dari masa ke masa.