
Di masa lalu, Sungai Bedadung mengalir tenang melewati wilayah yang kelak disebut Jember. Sungai ini bukan hanya sekadar aliran air yang membelah kampung, tetapi juga sumber kehidupan bagi masyarakat. Airnya jernih dan sejuk, digunakan untuk mengairi sawah yang membentang di sepanjang tepian. Ikan ikan kecil berenang bebas di antara bebatuan, menjadi bahan pangan bagi keluarga yang menggantungkan hidup pada alam. Sungai itu menjadi pusat aktivitas, tempat orang menimba air, mencuci hasil panen, dan mengajarkan anak anak cara mencari ikan dengan teknik sederhana yang diwariskan leluhur.
Pada suatu hari, Putri Jembersari, pemimpin muda yang dicintai rakyat, sedang duduk bersantai di tepi telaga yang terhubung dengan aliran Sungai Bedadung. Ia ditemani beberapa sahabat perempuan yang selalu setia berada di sisinya. Deru angin yang lembut dan gemericik air membuat suasana terasa damai. Tempat itu sering mereka datangi untuk sekadar bercengkerama atau melihat nelayan kecil menangkap ikan di sungai.
Kedamaian itu berubah menjadi ketegangan ketika seorang laki laki asing muncul dari balik pepohonan. Lelaki itu adalah kepala perampok yang telah lama menjadi ancaman bagi desa desa sekitar. Ia datang dengan niat jahat, ingin memaksa Putri Jembersari menjadi istrinya sekaligus menaklukkan desa yang makmur berkat aliran Sungai Bedadung. Putri Jembersari menolak mentah mentah. Dengan keberanian yang telah dikenal masyarakat, ia berdiri menghadapi ancaman itu.
Perkelahian sengit pun terjadi. Putri Jembersari bersama sahabat sahabatnya mencoba mempertahankan diri. Namun anak buah kepala perampok bermunculan dari segala arah. Mereka datang seperti bayangan yang memenuhi tepi sungai. Meskipun Putri Jembersari dan para sahabatnya berjuang sekuat tenaga, jumlah perampok yang sangat banyak membuat mereka kewalahan. Pada akhirnya, Putri Jembersari gugur di tepi sungai yang selama ini menjadi pusat kehidupan rakyatnya.
Setelah memastikan pemimpin itu tidak bernyawa lagi, para perampok melarikan diri masuk ke hutan. Tak lama kemudian bunyi kentongan bertalu talu. Sandi ketukan yang digunakan saat terjadi musibah segera menyebar ke penjuru desa. Warga berdatangan, membawa duka yang tampak jelas di wajah mereka. Sungai Bedadung yang biasanya menjadi tempat tawa berubah menjadi saksi kesedihan mendalam.
Meskipun diselimuti duka, penduduk menyadari bahwa kehidupan tidak berhenti. Mereka telah ditempa oleh kerasnya alam dan pahit manisnya sejarah. Setelah melakukan perabuan dan penguburan bagi Putri Jembersari dan para pengikutnya, mereka bersepakat mengabadikan nama sang pemimpin sebagai nama wilayah tersebut. Sejak saat itu, nama kecil Putri Jembersari menjadi nama daerah yang kita kenal sebagai Jember.
Sungai Bedadung terus mengalir hingga hari ini. Airnya tetap dimanfaatkan untuk irigasi, dan ikan ikannya masih menjadi bagian dari pangan masyarakat lokal. Kisah yang terjadi di tepinya mengingatkan bahwa sungai bukan hanya sumber air, tetapi jalinan kehidupan dan saksi sejarah. Dari sungai inilah masyarakat belajar tentang keberanian, persatuan, serta bagaimana alam menyediakan kebutuhan jika manusia menjaganya dengan baik. Cerita ini memberikan pesan bahwa hubungan harmonis antara manusia dan alam adalah fondasi bagi kesejahteraan yang berkelanjutan.