Sungai Jompo

URL Cerital Digital: http://taandika1.blogspot.com/2017/08/sejarah-jember.html

Pada masa kejayaan kerajaan Brawijaya, hiduplah seorang putri bernama Endang Ratnawati. Parasnya terkenal sangat elok hingga kabar kecantikannya menyebar ke berbagai wilayah. Banyak bangsawan dan satria datang membawa lamaran, tetapi Putri Endang Ratnawati selalu menolak dengan halus. Ia belum siap memulai kehidupan rumah tangga. Penolakan yang terus ia lakukan membuatnya ingin menjauh dari hiruk pikuk istana. Sang putri kemudian memilih menyepi dan berjalan keluar masuk hutan, mencari tempat sunyi untuk menenangkan hati.

Perjalanannya membawanya ke sebuah daerah terpencil yang belum banyak dijamah manusia. Di sana mengalir Sungai Jompo, sebuah sungai jernih yang menjadi sumber air bagi hewan hutan dan tumbuhan di sekitarnya. Masyarakat yang tinggal jauh dari istana memanfaatkan air sungai itu untuk mengairi ladang dan menangkap ikan yang hidup bebas di dalamnya. Bagi Putri Endang Ratnawati, sungai itu adalah tempat peneduh, tempat ia dapat beristirahat dari beban hidup yang menekan.

Suatu hari ketika sang putri mandi di aliran Sungai Jompo, datanglah seorang satria. Awalnya ia hanya berbicara, namun kemudian ia bertindak tidak terpuji dan melanggar kehormatan sang putri. Peristiwa itu membuat Putri Endang Ratnawati tenggelam dalam kesedihan mendalam. Ia merasa tubuh dan hatinya tak lagi suci. Dalam tangis ia mengeluh lirih, Jember, jember, badanku sudah kotor ternoda. Kata kata itu keluar sebagai ungkapan duka yang lahir dari rasa kehilangan dan keputusasaan.

Larut dalam kesedihan tanpa penopang, Putri Endang Ratnawati akhirnya mengambil keputusan tragis. Ia mengakhiri hidupnya di sungai itu. Beberapa waktu kemudian penduduk sekitar menemukan jasadnya yang hanyut di aliran Sungai Jompo. Mereka berusaha mencari keluarganya, tetapi tak ada yang mengenali identitasnya. Dengan penuh hormat, penduduk menguburkan sang putri di tepi Sungai Bedadung, tidak jauh dari tempat aliran sungai menyatu dan memberi kehidupan bagi warga sekitar.

Beberapa hari kemudian Raja Brawijaya mencari cari putrinya yang tak kunjung pulang. Ia mengirim kabar ke berbagai daerah, namun tak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan sang putri. Sampai suatu ketika terdengar laporan tentang seorang perempuan yang telah dimakamkan oleh warga. Ketika Raja datang ke tempat itu dan mendengar keluhan terakhir yang terucap oleh sang putri, ia memahami bahwa nama yang keluar dari mulut putrinya adalah cerminan kepedihannya. Sejak saat itu masyarakat menyebut wilayah tersebut dengan nama Jember, berasal dari gumaman lirih sang putri pada detik detik terakhir hidupnya.

Sungai Jompo yang menjadi saksi kisah pilu ini tetap mengalir hingga kini. Airnya dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan. Alirannya mengairi sawah, dan ikan ikan yang hidup di dalamnya menjadi pangan bagi masyarakat. Sungai itu mengajarkan bahwa air bukan hanya penopang hidup, tetapi juga penyimpan memori masa lalu. Melalui kisah Putri Endang Ratnawati, masyarakat diingatkan bahwa alam merekam jejak manusia, dan sungai sebagai sumber air perlu dijaga agar tetap memberi kebaikan bagi generasi selanjutnya.

Kisah ini mengandung nilai kearifan yang dapat direnungkan. Sungai yang memberi kehidupan adalah anugerah, dan manusia yang memanfaatkan air serta ikan di dalamnya memiliki tanggung jawab moral untuk melindunginya. Cerita ini juga mengajarkan pentingnya menghormati martabat setiap manusia serta menjaga batas batas yang menjamin keselamatan bersama. Pada akhirnya, hubungan manusia dengan alam hanya akan harmonis jika dilandasi rasa hormat, kepedulian, dan kesadaran bahwa kehidupan berasal dari keseimbangan yang harus dijaga.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.