Sungai Tawing dan Putri Ngerit dari Desa Senden

URL Cerital Digital: https://nggalek.co/2021/12/18/kisah-kisah-perempuan-pertapa-yang-mendiami-gua-gua-di-perbukitan-trenggalek/

Di perbukitan selatan Trenggalek, hamparan hutan lebat dan aliran sungai yang jernih membentuk lanskap alam yang dulu menjadi tempat bermukimnya para pertapa dan tokoh sakti. Salah satu kisah yang paling dikenal masyarakat adalah kisah Putri Ngerit, seorang perempuan sakti yang hidup di kawasan Ngerit, dekat aliran Sungai Tawing yang kini menjadi sumber irigasi penting bagi warga Desa Senden dan sekitarnya.

Pada masa itu, wilayah Kampak masih berupa rimba yang rapat. Sungai Tawing mengalir lincah di antara bebatuan besar. Airnya jernih, dingin, dan tidak pernah kering sepanjang tahun. Penduduk awal memanfaatkan air sungai tersebut untuk minum, memasak, bercocok tanam, dan mengairi sawah kecil yang mereka buka di antara pepohonan. Air Sungai Tawing menjadi sumber pangan utama, karena pengairan yang cukup membuat tanaman tumbuh subur meski lahan terbatas.

Di tengah kawasan inilah kisah Putri Ngerit bermula. Ia dikenal sebagai perempuan berparas elok, namun kecantikannya tidaklah menjadi hal yang paling istimewa. Ia juga seorang pertapa yang sakti mandraguna. Menurut cerita setempat, Putri Ngerit merupakan pendatang dari lingkungan keraton Majapahit yang kemudian memilih bertapa di sebuah gua di kawasan Ngerit. Gua itu berada tidak jauh dari Sungai Tawing, sehingga ia dapat mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari dan menjaga keseimbangan alam sekitar.

Masyarakat memandang Putri Ngerit sebagai penjaga wilayah Kampak. Keberadaannya membuat orang-orang yang berniat buruk tidak berani merusak hutan atau merampas hak warga. Namun ketenangan itu terusik ketika seorang penguasa kaya raya bernama Ki Ronggo Pesu mendengar kabar kecantikannya. Ki Ronggo Pesu adalah seorang yang sangat berkuasa, memiliki banyak harta, banyak istri, dan dikenal ambisius. Meskipun sudah tua, ia memutuskan bahwa Putri Ngerit harus menjadi istrinya.

Sayangnya bagi Ki Ronggo Pesu, ia terlambat. Putri Ngerit telah lebih dahulu dilamar oleh Ki Demang Tangar, lelaki muda yang gagah, berbudi luhur, dan dihormati masyarakat. Putri Ngerit menerima lamarannya, membuat Ki Ronggo Pesu terbakar rasa iri. Ia merasa tidak pantas dikalahkan oleh lelaki yang secara status berada di bawah dirinya. Maka dimulailah perseteruan yang keras antara dua tokoh sakti ini.

Konflik antara Ki Demang Tangar dan Ki Ronggo Pesu berlangsung sengit, namun Putri Ngerit tidak tinggal diam. Sebagai pertapa perempuan, ia memiliki kewibawaan yang membuatnya dihormati bahkan oleh makhluk-makhluk yang dianggap lebih tua dari usia manusia. Dalam banyak kisah, ia digambarkan sebagai sosok yang menjaga kelestarian alam Kampak. Sungai Tawing, dengan aliran air yang jernih dan stabil, tetap mengalir berkat ketenangan alam yang ia pelihara melalui tirakat dan semadinya.

Bayangkan betapa lebatnya hutan Kampak pada masa itu. Sungai Tawing mengalir dari celah bebatuan raksasa, melewati gua-gua sempit yang dipenuhi kelembapan, sebelum meneruskan alirannya menuju sawah masyarakat. Gua-gua di sekitar Ngerit menjadi tempat para pertapa melakukan lelaku. Air yang mengalir tidak hanya menghidupi tumbuhan, tetapi juga menjadi bagian dari laku spiritual para penduduk yang menghormati alam sebagai bagian dari kehidupan.

Putri Ngerit diyakini bertapa di salah satu gua itu. Dari tempat semadi tersebut, ia melindungi warga dari keserakahan Ki Ronggo Pesu. Pertarungan kekuatan antara Ki Ronggo Pesu dan Ki Demang Tangar menjadi simbol perseteruan antara ambisi dan kebijaksanaan. Dan di tengah pertentangan itu, Sungai Tawing tetap mengalir sebagai tanda bahwa alam berjalan pada keseimbangannya sendiri.

Kini, Sungai Tawing menjadi sumber air yang sangat penting. Alirannya dimanfaatkan sebagai irigasi utama untuk sawah dan perkebunan warga. Airnya memungkinkan masyarakat menanam padi, sayur, dan berbagai tanaman lain yang menjadi pangan sehari-hari. Sungai ini bukan hanya aliran air, tetapi juga peninggalan kisah lama yang mengajarkan tentang keharmonisan antara manusia, alam, dan nilai moral.

Kisah Putri Ngerit dan Sungai Tawing mengingatkan kita bahwa alam selalu menyediakan kehidupan bagi mereka yang menjaganya. Pertapaan sang putri, keberaniannya melawan keserakahan, serta keteguhan spiritualnya mencerminkan nilai kearifan lokal yang masih relevan hingga kini. Sungai Tawing yang terus mengalir adalah pengingat bahwa sumber pangan dan air akan tetap ada bila manusia menjaga keseimbangannya. Dari legenda ini, kita belajar bahwa alam bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga guru yang mengajarkan ketulusan, keteguhan hati, dan pentingnya menjaga harmoni demi masa depan bersama.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.