Tasbih dan Pohon Nyamplong

URL Cerital Digital: https://www.lontarmadura.com/kisah-tasbih-biji-nyamplong-adi-poday/#google_vignette

Setelah Jokotole tumbuh dewasa dan namanya mulai dikenal di berbagai penjuru Madura, perjalanan hidup ibunya, Pottre Koneng, pun berubah. Adi Poday, sosok pertapa yang dahulu hadir dalam mimpi sang putri dan menjadi ayah dari Jokotole, kembali muncul. Dengan penuh penghormatan, ia menjemput Pottre Koneng di Sumenep dan membawanya ke Pulau Sepudi. Peristiwa itu kemudian dicatat dalam Babad Songennep dan dalam tulisan RTA Zainalfattah Notoadikusumo, menjadi bagian penting dari sejarah Madura.

Di Sepudi, Adi Poday menggantikan ayahnya, Pulangjiwo, sebagai pemimpin wilayah. Pulangjiwo sendiri pernah ditunjuk Kerajaan Majapahit sebagai penguasa Pamekasan, lalu menetap di Sepudi hingga akhir hayatnya. Masyarakat mengenalnya dengan gelar Panembahan Blingi, gelar yang dikaitkan dengan sebutan balli atau wali dalam bahasa Madura. Gelar itu mencerminkan kedudukannya sebagai pemimpin spiritual yang dihormati pada masanya.

Setelah Pulangjiwo wafat, Adi Poday memikul tanggung jawab pemerintahan. Ia menerima gelar Panembahan Wirokromo, meski masyarakat Sepudi lebih sering menyebut gelar itu sebagai nama lain Panembahan Blingi. Gelar lain yang melekat padanya adalah Panembahan Poday, gelar yang kemudian menyebar dan dikenal luas di seluruh wilayah Madura.

Sehari-hari, Panembahan Adi Poday menjalani kehidupan yang sederhana dan penuh ketenangan. Ia gemar berdzikir dengan tasbih yang dibuat dari biji pohon Nyamplong atau yang disebut juga Camplong. Pohon Nyamplong banyak tumbuh liar di sekitar permukiman, dan Adi Poday melihat potensi besar tanaman itu, tidak hanya untuk media berdzikir tetapi juga sebagai bagian dari budaya yang memperkuat hubungan masyarakat dengan alam sekitar. Ia menyarankan para kiai dan penduduk untuk menanam lebih banyak pohon tersebut.

Anjuran itu disambut baik. Warga mulai memperbanyak penanaman pohon Nyamplong di sekitar Poday. Ketika pohon itu tumbuh subur, manfaatnya menjadi semakin jelas. Selain buahnya dapat digunakan sebagai biji tasbih, kayu pohon Nyamplong ternyata kuat dan lentur sehingga cocok untuk bahan pembuatan perahu. Masyarakat pesisir pun memanfaatkan kayu itu untuk membuat perahu kecil yang digunakan mencari ikan atau mengangkut hasil bumi. Perahu ini menjadi bagian penting dalam kehidupan pangan masyarakat, karena alat inilah yang membantu nelayan mencari sumber makanan dari laut. Dengan demikian, pohon Nyamplong tidak hanya menjadi simbol religius tetapi juga penopang kehidupan pangan di wilayah itu.

Dalam ingatan masyarakat, nama Panembahan Poday terpatri kuat. Ia dikenang sebagai pemimpin yang bijaksana, ulama yang mengajarkan kedamaian, serta tokoh yang membawa pengaruh besar dalam perkembangan Islam di Poday dan sekitarnya. Banyak santri dari berbagai daerah, bahkan hingga Tanah Jawa, datang untuk belajar kepadanya.

Hingga kini, makam Panembahan Adi Poday yang dikenal dengan nama Asta Nyamplong masih menjadi tempat yang dihormati oleh masyarakat Madura. Makam itu terletak di desa Nyamplong, di tempat yang dipercaya sebagai bekas istana kecil sang panembahan. Setiap tahun, banyak peziarah datang untuk mengenang jejak langkahnya dan menghaturkan doa.

Bagikan Cerita Rakyat

Artikel Terbaru

Ingin Berkontribusi?

Mari bersama melestarikan warisan Nusantara melalui cerita, data, dan kolaborasi.