Pada masa silam, sebelum ajaran Islam berkembang luas di tanah Jawa, masyarakat Desa Gedangkulut masih memeluk kepercayaan animisme. Mereka meyakini adanya roh halus atau danyang yang menjaga desa. Bagi warga, roh-roh tersebut bukan sekadar makhluk gaib, melainkan penjaga keseimbangan hidup. Untuk itu, berbagai tempat dianggap keramat, seperti Telaga Paloma, Seget, dan Sucen.
Di antara semua tempat suci itu, Telaga Paloma adalah yang paling dihormati. Di sana terdapat tiga batu lumpang besar yang berada di bawah naungan pohon asam tua. Konon, pohon asam ini sudah ada sejak nenek moyang pertama membuka desa. Setiap waktu tertentu, terutama menjelang musim tanam, warga akan berkumpul di sekitar telaga. Mereka menyalakan merang padi yang dibakar hingga asapnya mengepul ke langit. Sambil membakar jerami itu, doa-doa dipanjatkan dengan penuh khidmat agar panen mereka berhasil.
Ritual tersebut berlangsung bertahun-tahun, bahkan hingga dekade 1940-an sampai 1960-an. Bagi masyarakat, itu adalah cara menjaga hubungan dengan alam sekaligus penghormatan pada danyang desa. Bau asap merang yang khas bercampur dengan suara doa membuat suasana Telaga Paloma terasa sakral, seolah waktu berhenti berputar di tempat itu.
Namun, zaman terus berubah. Situasi politik Indonesia di pertengahan abad ke-20 membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat desa. Setelah runtuhnya paham komunisme, masyarakat mulai terbuka menerima ajaran Islam. Perlahan, tradisi lama yang berakar dari animisme mulai ditinggalkan. Doa-doa yang dahulu dipanjatkan kepada danyang kini digantikan dengan doa yang ditujukan kepada Yang Maha Kuasa. Telaga Paloma, Seget, dan Sucen yang dulu ramai oleh ritual, kini hanya menyisakan jejak sejarah dan kenangan tentang kepercayaan leluhur.
Meski kepercayaan berubah, hasil bumi tetap menjadi pengikat kehidupan desa. Salah satunya adalah pisang emas, buah khas Gedangkulut yang tumbuh subur di pekarangan dan ladang warga. Dahulu, pisang emas sering menjadi bagian dari sesaji pada ritual di Telaga Paloma. Kini, pisang emas tidak lagi dipersembahkan untuk roh halus, melainkan dinikmati sebagai buah konsumsi sehari-hari. Rasanya yang manis dan lembut membuatnya digemari, sementara kandungan gizinya memberi tenaga bagi para petani yang bekerja di sawah.
Perjalanan Desa Gedangkulut mengajarkan bahwa pangan bukan hanya soal kenyang, melainkan juga bagian dari sejarah dan identitas. Pisang emas yang dulu menjadi persembahan kini justru menjadi simbol kehidupan baru. Dari sebuah desa yang dahulu dikelilingi asap ritual animisme, kini Gedangkulut berdiri sebagai desa yang berpegang pada ajaran Islam, tetap menjaga tanahnya, dan tetap bangga pada buah pisang emas sebagai warisan yang menyehatkan sekaligus mengikat cerita masa lalu dengan masa kini.